<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Al-HUJJAH</title>
	<atom:link href="http://alhujjah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alhujjah.wordpress.com</link>
	<description>Menegakkan Tauhid dan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 07:57:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alhujjah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Al-HUJJAH</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alhujjah.wordpress.com/osd.xml" title="Al-HUJJAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alhujjah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hikmah Ramadhan</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2010/09/08/hikmah-ramadhan/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2010/09/08/hikmah-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 00:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani Perjalanan waktu terus berlangsung. Tanpa terasa sekian ramadhan telah dilewati. Ini membuktikan bahwa masa sudah saling berdekatan sebagaimana yang di beritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangkali sebagian kita telah melalui ramadhan selama enam puluh tahun, ada pula yang lima puluh tahun, empat puluh tahun, tiga puluh tahun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=74&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani</em></p>
<p>Perjalanan waktu terus berlangsung. Tanpa terasa sekian ramadhan telah dilewati. Ini membuktikan bahwa masa sudah saling berdekatan sebagaimana yang di beritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangkali sebagian kita telah melalui ramadhan selama enam puluh tahun, ada pula yang lima puluh tahun, empat puluh tahun,  tiga puluh tahun, dua puluh tahun, atau lebih maupun kurang. Namun apa hasil yang sudah kita raih untuk kebaikan agama dan akherat kita. Sudahkah tempaan bulan suci ramadhan mampu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Atau masihkah tingkah laku kita sama dengan masa sebelumnya bahkan malah lebih parah. Kita memohon kepada Allah ampunan dan rahmat-Nya.<br />
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita merenungi Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berikut ini, (yang artinya):<br />
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang –orang yang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa (kepada Allah)”. (Al Baqarah: 183)<span id="more-74"></span></p>
<p>Apabila bertakwa kepada Allah menjadi tujuan yang utama dalam melaksanakan puasa ramadhan berarti pemenangnya adalah orang yang berhasil meningkatkan mutu ketakwaannya selepas bulan yang suci ini. Tentu sangat ironis, jika seorang yang berpuasa di bulan ramadhan justru lebih jauh dari Allah pada bulan-bulan yang berikutnya. Bahkan merupakan kesalahan yang besar bila seorang yang berpuasa mau menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat hanya  dalam bulan suci ramadhan dan tak lebih dari itu. Semestinya, fenomena rasa antusias yang sedemikain tinggi untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi kemaksiatan dalam bulan suci ramadhan bisa ditularkan pada perputaran waktu yang selanjutnya.</p>
<p>Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita menghilangkan dari benak kita asumsi bahwa ramadhan hanya sekadar seremonial ritual agama yang di gelar karena adat istiadat umat islam. Selepasnya, kita kembali kepada kemerosatan keyakinan dan moral yang sudah berlangsung sebelumnya dengan sangat parah dan rendah.                                                 Marilah kita menjadikan ramadhan sebagai pendidikan spiritual yang mampu membentuk kita sebagai manusia-manusia berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya bulan suci ramadhan ini mengandung berbagai pelajaran dan hikmah yang cukup banyak. Ibarat buah yang sudah ranum diatas pohonnya dan hanya tinggal menanti siapa yang datang untuk memetiknya. Dalam tulisan yang ala kadarnya ini, kami mencoba untuk menyuguhkan sebagian pelajaran dan hikmah bulan suci ramadhan bagi para pembaca yang budiman, dengan harapan semoga Allah memberkati kehidupan kita dari waktu ke waktu yang kita lalui, sehingga kita menjadi semakin baik dan lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>1.Berpuasa</p>
<ol></ol>
<p>Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alihi wasalam. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan. Selain puasa ramadhan disana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah.  Yang wajib, misalnya seperti puasa qadha`, puasa kaffarah, dan puasa nadzar. Adapun yang sunnah, misalnya seperti puasa nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, Puasa hari senin dan kamis, puasa hari-hari putih yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan limas belas dari setiap pertengahan bulan hijriyah dan lain sebagainya.</p>
<p>Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu ketakwaan kita. Disamping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan diri dari amukan api neraka. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):</p>
<p>“Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan api neraka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad yang hasan)</p>
<p>Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak? Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita.  Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):</p>
<p>“Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah radhiyallahu ‘anha)</p>
<p>Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita. Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya):</p>
<p>“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Wahai segenap kaum muslimin, ketahuilah, bahwa lambung yang penuh merupakan sarang syaithan yang paling kotor. Dari lambung yang penuh itu, dia akan menggoda seorang manusia untuk durhaka kepada Allah. Seorang hamba yang lambungnya penuh memiliki tenaga, kekuatan, daya, dan potensi yang cukup besar untuk berbuat apa saja. Maka syaithan menggunakan peluang emas ini untuk menggodanya agar memuaskan segenap hawa nafsu dan syahwat dunia yang diinginkannya tanpa harus memperdulikan syariat Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin mampu mengendalikan berbagai dorongan hawa nafsu dan syahwat kesenangan dunia yang sedang bergejolak hebat dalam dirinya, maka hendaklah dia berpuasa. Maka dengan berpuasa, dia akan terbebas dari segala ajakan hawa nafsu dan syahwat yang bisa menjerongkokkannya ke dalam berbagai lembah hitam yang rendah lagi nista. Termasuk syahwat dunia yang bisa dia redam dengan berpuasa adalah syahwat terhadap wanita-wanita yang diharamkan atasnya. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):</p>
<p>“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah dia segera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena yang demikian itu buat dirinya adalah tameng”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Betapa banyak para pria yang terjungkal ke dalam lembah neraka jahannam disebabkan oleh fitnah wanita. Intinya, bahwa berpuasa adalah senjata ampuh guna meredam dan mengendalikan hawa nafsu dan syahwat yang durjana. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka berpuasa bukan hanya amalan rutinitas pada bulan suci ramadhan. Akan tetapi lebih daripada itu, berpuasa adalah kebutuhan rohani yang semestinya ditunaikan sesuai prosedur syariat islam yang benar demi menggapai kebaikan dunia dan akherat, sehingga kita menjadi manusia-manusia yang lebih bertakwa dan berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish shawab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=74&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2010/09/08/hikmah-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemulian Rasa Malu</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2010/08/15/67/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2010/08/15/67/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 07:38:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani Rasa malu merupakan sifat yang mulia, warisan dari para nabi ‘alaihimus salam. Oleh karena itu, Sifat yang agung ini telah diwarisi secara turun temurun oleh orang-orang shalih dari satu umat kepada umat yang lainnya. Dari satu generasi kepada generasi yang berikutnya. Demikianlah, sampai ajaran rasa malu itu diwarisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=67&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani<br />
</em></p>
<p>Rasa malu merupakan sifat yang mulia, warisan dari para nabi ‘alaihimus salam. Oleh karena itu, Sifat yang agung ini telah diwarisi secara turun temurun oleh orang-orang shalih dari satu umat kepada umat yang lainnya. Dari satu generasi kepada generasi yang berikutnya. Demikianlah, sampai ajaran rasa malu itu diwarisi oleh pendahulu umat ini yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshary, ‘Uqbah bin &#8216;Amir radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah   bersabda:<br />
(إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ).<br />
“Sesungguhnya termasuk yang masih didapatkan oleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau suka.” (HR. Al-Bukhari)<span id="more-67"></span></p>
<p>Rasa malu adalah sifat yang mulia. Rasa malu, seluruhnya adalah kebaikan. Rasulullah  merupakan profile yang menjadi panutan dan tauladan dalam perihal rasa malu. Bahkan sampai disebutkan bahwa beliau lebih pemalu dari gadis pingitan yang berada dalam kamarnya. Demikianlah Rasulullah . Lebih daripada itu, para malaikat juga memiliki rasa malu. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits ketika Rasulullah  ditemui oleh &#8216;Utsman bin &#8216;Affan radhiyallahu ‘anhu. Waktu itu, Rasulullah  tersingkap bagian pahanya sehingga terbuka. Maka beliau pun bergegas membenahi dirinya tatkala utsman masuk kepadanya. Rasulullah  pun ditanya tentang  sikapnya yang demikian, maka beliau menjawab:<br />
أَلاَ أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ<br />
&#8220;Bagaimana aku tidak malu kepada seseorang yang para malaikat pun merasa malu kepadanya.” (HR. Muslim)<br />
Hadits ini menunjukkan bahwa rasa malu merupakan sifat para malaikat.<br />
Maka sebagaimana dalam hadist Abu Mas’ud Al Anshary diatas, bahwa orang yang tidak punya rasa malu, dia akan terjatuh pada perkara-perkara yang buruk dan jelek, baik secara hukum syar’i maupun dalam tinjaun adat kebiasan manusia.<br />
Pernyataan beliau shallallahu ’alaihi wasallam yang artinya:<br />
“apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engakau suka”.<br />
Di kalangan para ulama, ada tiga pengertian dalam memahaminya:<br />
Pengertian yang pertama:<br />
sebagian ulama memahami bahwa maksud perintah di sini “apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau suka”, adalah sebagai ancaman. Maksudnya, jika engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau suka, sesungguhnya Allah yang akan membalas perbuatanmu. Hal ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ<br />
&#8220;Perbuatlah apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (Fushilat: 40)<br />
Maksud ayat ini adalah ancaman. Yakni Allah yang akan melihat dan mengawasi apa yang kalian kerjakan, maka perbuatlah apa yang kalian kehendaki. Niscaya Allah akan menghitung dan membalas perbuatan kalian itu. Maka menurut pendapat ini bahwa makna hadits diatas adalah ancaman. Berarti perintah berbuat sesuka hati bila tidak memiliki rasa malu merupakan ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Pengertian yang kedua:<br />
menurut sebagian ulama yang lain bahwa perintah di sini maksudnya adalah untuk pembolehan. Artinya, jika engkau tidak malu kepada Allah dan Rasul-Nya serta manusia, maka lakukanlah apa yang engkau suka tersebut, Karena hal itu menunjukkan akan kebolehannya. Namun jika engkau malu kepada Allah dan Rasul-Nya serta manusia, maka janganlah engkau melakukannya”. Ini adalah pendapat Imam An Nawawi rahimahullah.<br />
Pengertian yang ketiga:<br />
menurut sebagian ulama yang lain bahwa perintah di sini maksudnya adalah pemberitaan. Artinya, pernyataan: ”apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang engkau suka”, merupakan  pemberitaan bahwa orang yang tidak punya rasa malu akan melakukan segala perkara yang baik maupun buruk.  Seperti sabda Rasulullah :<br />
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ<br />
&#8220;Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka.” (HR. Muslim)<br />
Ini bukan perintah yang menunjukkan kewajiban. Tetapi perintah yang bermakna pemberitaan bahwa orang yang berdusta atas nama Rasulullah  berarti dia telah mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka. Demikian pula dalam hadits ini bahwa orang yang tidak punya rasa malu, niscaya dia akan berbuat sesukanya. Barangkali dia akan melakukan perkara yang maksiat, jelek, keji, bahkan bisa jadi kekafiran dan kesyirikan sekalipun, karena dia tidak lagi punya rasa malu.<br />
Al-Khaththabi rahimahullah menerangkan mengapa Rasulullah  memberitakannya dengan kata perintah. Beliau rahimahullah berkata: “Ketika rasa malu itu mencegah dari perbuatan yang jelek, maka orang yang tidak punya rasa malu, seolah-olah dia diperintah oleh tabiatnya untuk berbuat sesukanya. Oleh karena itu, Rasulullah  di sini menggunakan kata perintah dan tidak menggunakan kata yang menunjukkan pemberitaan”.<br />
(lihat Fathul Baari oleh Ibnu Hajar Al ’Asqolaani rahimahullah 3/139)</p>
<p>Rasa malu adalah akhlak yang mulia, akhlak yang dimiliki oleh orang-orang yang baik. Setiap orang yang memiliki rasa malu niscaya akan tercegah dari perkara-perkara yang buruk dan jelek yang dimurka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta dibenci oleh manusia.<br />
Rasa malu itu sendiri terbagi dua. Ada rasa malu yang menjadi sifat pembawaan atau tabiat yang merupakan karunia dan pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini diistilahkan dengan rasa malu yang tidak diupayakan. Bisa jadi ada sebagian orang yang meninggalkan perkara-perkara yang buruk dan jelek bukan karena dia paham dan komitmen kepada agamanya. Akan tetapi lebih disebabkan rasa malu untuk melakukannya. Sehingga dia meninggalkannya bukan karena dorongan agama tapi disebabkan faktor rasa malu yang memang Allah ciptakan pada dirinya. Tabiat ini merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dilimpahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha memiliki keutamaan yang besar.<br />
Rasa malu yang kedua adalah rasa malu yang bisa diupayakan. Maksudnya adalah rasa malu yang lahir karena merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu bisa tewujud karena mengenal dzat Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat Nya yang Maha mulia dan agung. Dia malu kalau Allah melihatnya berbuat keburukan dan kejelekan. Maka dia berupaya menghindari perkara-perkara yang buruk dan jelek disebabkan rasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun secara tabi’at dan watak, dia bisa dan mungkin biasa melakukan keburukan dan kejelekan tersebut. Ini namanya rasa malu yang diupayakan dan yang dimaksud oleh sabda Rasulullah :<br />
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ<br />
“Rasa malu itu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Rasulullah  &#8211; sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma- pernah melewati seseorang dari kalangan anshar yang tengah menasihati saudaranya mengenai rasa malu. Maka Rasulullah  bersbda:<br />
دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ اْلإِيْمَانِ<br />
“Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu itu termasuk dari keimanan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Rasa malu yang termasuk dari keimanan  adalah rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Apa pun  keadaannya, seorang yang punya rasa malu secara tabiat dan kepribadian, memiliki modal dasar untuk menuju rasa malu yang diupayakan karena  merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika rasa malu itu dicabut dari seseorang, baik rasa malu secara tabiat dan kepribadian maupun rasa malu yang memang disyari’atkan, maka akan lenyap berbagai kebaikan dari dirinya. Dia akan jatuh pada perbuatan-perbuatan yang buruk dan jelek, baik secara hukum syar’i maupun secara adat kebiasaan manusia.<br />
Namun di sana sesungguhnya ada rasa malu yang tercela. Rasa malu yang tercela –sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang selainnya- yaitu rasa malu yang menghalangi seseorang untuk menunaikan hak dan kewajiban. Seseorang merasa malu dalam menuntut ilmu sehingga dia mengalami kebodohan dalam agamanya. Seseorang merasa malu untuk beribadah kepada Allah sehingga dia tidak menunaikan kewajibannya terhadap Allah. Seseorang merasa malu untuk menunaikan hak dirinya, hak keluarganya, hak kaum muslimin. Maka semua rasa malu itu adalah rasa malu yang tercela. Karena rasa malu yang seperti ini merupakan kelemahan dan kecerobohan.<br />
(lihat Fathul Baari 3/138)<br />
Sedangkan yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:<br />
الْحَيَاءُ لا يأتي إلا بخَيْرٍ<br />
&#8220;Rasa malu itu tidak membawa kecuali kepada kebaikan.&#8221; (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
yaitu rasa malu yang membawa kepada keimanan serta tidak melalaikan hak dan kewajiban.<br />
Lalu mengapa rasa malu yang menghalangi seseorang dari kebaikan disebut sebagai rasa malu? Hal itu karena rasa malu ini menyerupai rasa malu yang yang disyari’atkan. Padahal hakekatnya, rasa malu yang menghalangi dari kebaikan adalah tercela di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Maka orang yang mempunyai rasa malu akan terhalangi dari perkara-perkara yang buruk dan jelek, baik rasa malu yang berlaku secara tabi’at maupun rasa malu yang lahir karena keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita mau memperhatikan kondisi dan keadaan manusia secara cermat, niscaya kita akan mendapati realita bahwa berbagai keburukan dan kejelekan terjadi, baik yang berupa kekafiran, kesyirika, kebid’ahan, dan kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar,  dikarenakan mereka telah kekurangan bahkan kehilangan rasa malu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika rasa malu dengan kedua jenisnya telah hilang dari seseorang maka tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan darinya. Bahkan bisa jadi dirinya telah berubah menjadi syaithan yang terkutuk.<br />
Kita memohon kepada Allah keselamatan dan keampunan.</p>
<p>Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=67&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2010/08/15/67/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tokoh Penyesat Umat</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/08/26/tokoh-penyesat-umat/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/08/26/tokoh-penyesat-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 14:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits: (يَتَقَارَبُ الزّمَانُ، وَيَنْقُصُ العلم، وَيُلْقَىَ الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ). قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أيُّمَا هُوَ؟ قَالَ: (الْقَتْلُ الْقَتْلُ). “Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.&#8221; Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=50&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani</em></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits:</p>
<p>(يَتَقَارَبُ الزّمَانُ، وَيَنْقُصُ العلم، وَيُلْقَىَ الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ). قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أيُّمَا هُوَ؟ قَالَ: (الْقَتْلُ الْقَتْلُ).</p>
<p>“Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.&#8221; Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau menjawab: &#8220;pembunuhan demi pembunuhan.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)<br />
Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekecauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas. Di zaman ini, ilmu telah sedemikian berkurang, sehingga sangat langka untuk kita temui di tengah masyarakat muslimin, seorang yang bisa disebut sebagai ulama. Kondisi ini semakin diperparah dengan kemunculan berbagai fitnah dan kekacauan di tengah-tengah mereka.<span id="more-50"></span></p>
<p>Termasuk yang perlu kita waspadai di masa ini dari sekian fitnah dan keributan yang terjadi adalah para tokoh penyesat umat.</p>
<p>Di dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي َاْلأَئِمَةَ الْمُضِلِّينَ</p>
<p>“Hanya saja yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin (baca: tokoh) yang menyesatkan.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al Imam Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Al Albani rahimahullah dalam As-Shahihah 4/110)<br />
Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan kata ‘hanya saja’ menunjukkan bahwa kekhawatiran beliau terhadap para pemimpin (baca:tokoh) yang menyesatkan sedemikian kuat. Karena mereka adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka sangat mampu untuk menyesat umat ini dari jalan Allah.<br />
Allah berfirman mengenai orang-orang yang binasa:</p>
<p>وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا</p>
<p>“Dan mereka berkata: &#8220;Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta`ati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Al-Ahzab: 67)<br />
Maka kita perlu berhati-hati dari bahaya laten para tokoh yang menyesatkan. Mereka memiliki lisan yang mampu untuk menyesatkan umat dengan mengolah kata dan bersilat lidah. Demikianlah keadaan mereka.<br />
Maka ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Ziyad bin Fudhail:<br />
“Apa yang dapat menghancurkan Islam?&#8221; ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjawab: &#8220;Yang menghancurkan Islam adalah ketergelinciran seorang yang &#8216;alim, dan seorang munafik yang berdebat dengan menggunakan al-kitab.”<br />
Ini adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka akan menyesatkan kaum muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menggunakan dalil-dalil syar’i namun bukan pada tempatnya. Demi Allah, pada masa ini, masyarakat kita dikepung oleh tipikal-tipikal pemimpin maupun tokoh yang seperti itu. Menyeruak di sekitar mereka, para ulama su` (jahat) yang dengan segala kelihain dan kelicikan, menyesatkan umat dengan berbagai syubhat dan kerancuan pemikiran. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mewaspadai suasana genting ini, dengan mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para ulama yang mengamalkan dan memperjuangkan agama Allah dengan segala yang mereka miliki. Inilah satu-satunya penanganan yang paling efektif dalam menanggulangi gejolak fitnah yang sedahsyat itu.<br />
Berapa banyak orang yang menyuarakan kebenaran, namun sedikit diantara mereka yang bisa menunjukkan bahwa yang benar itu adalah benar, dan dia benar-benar di atas yang benar . Oleh sebab itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan: &#8220;Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.”<br />
Para pemimpin atau tokoh penyesat umat lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada musuh-musuh Allah yang menyerang dari luar lingkup kaum muslimin. Apakah mereka dari kalangan Yahudi maupun Nashara. Kalau mereka dari kalangan orang-orang yang kafir, tentunya kebanyakan kaum muslimin waspada terhadap berbagai makar mereka. Namun bagaimana dengan musuh dalam selimut yang berbaju sama, berkopiah sama, dan berpenampilan sama seperti kaum muslimin, bahkan beramal pada sebagian amalan, sama seperti kaum muslimin. Mereka shalat seperti  kaum muslimin, dan berbicara dengan lisan/bahasa kaum muslimin. Akan tetapi mereka adalah para penyeru kepada neraka jahannam.<br />
Di dalam hadits Hudzaifah bin Al Yamaan radhiyallahu ’anhu disebutkan:</p>
<p>(نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا). قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ: (هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا).</p>
<p>“Ya, para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa yang memehuhi panggilan mereka, mereka akan mencampakkannya ke dalam neraka jahanam itu.&#8221; Aku bertanya: &#8220;wahai Rasulullah! Sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: &#8220;Mereka dari jenis kita dan berbicara dengan lisan-lisan (bahasa-bahasa) kita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Inilah bahaya laten yang sangat kejam dalam membinasakan kaum muslimin . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.&#8221; (Al-An&#8217;am: 119)</p>
<p>بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ</p>
<p>&#8220;Tetapi orang-orang yang dzalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.&#8221; (Ar-Rum: 29)<br />
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari kejahatan para tokoh penyesat umat. Wallahu a’lam bish shawab<br />
***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=50&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/08/26/tokoh-penyesat-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nestapa Pengekor Hawa Nafsu</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/31/nestapa-pengekor-hawa-nafsu/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/31/nestapa-pengekor-hawa-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 16:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani Sesungguhnya di dunia ini bagi manusia hanya ada dua jalan; jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan hawa nafsu merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan sebagai musuh manusia guna menimbun bahan bakar api neraka pada hari kiamat nanti. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=47&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh:Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani</em></p>
<p>Sesungguhnya di dunia ini bagi manusia hanya ada dua jalan; jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan hawa nafsu merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan sebagai musuh manusia guna menimbun bahan bakar api neraka pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alihi wasallam tatkala menerangkan tentang petunjuk, acap kali mengingatkan pula tentang bahaya hawa nafsu.<span id="more-47"></span><br />
Hawa nafsu berarti &#8216;kecenderungan manusia kepada perkara yang di suka oleh jiwanya&#8217;. Hawa nafsu yang tercela adalah hawa nafsu yang menyelisihi petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para salaf menggelari sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu atau ibadah sebagai pengikut hawa nafsu, karena mereka menyelisihi petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Petunjuk Allah yaitu ilmu agama yang diwahyukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada nabi-Nya.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Dawud ’alaihis salam:<br />
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ<br />
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)<br />
Hawa nafsu menjalar pada diri seseorang laksana sebuah penyakit yang sangat ganas, bahkan lebih berbahaya dari rabies pada seekor anjing. Hawa nafsu lebih berbahaya karena tidak disadari oleh pengidapnya tetapi lebih mematikan. Jika rabies dapat membinasakan jasad manusia maka hawa nafsu bisa menghancurkan jiwanya. Sehingga hatinya pun mati dan gelap gulita.  Pada akhirnya, dia tak lagi mampu menerima petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Dalam menghadapi hawa nafsu sangat dibutuhkan kesabaran. Seorang yang ingin bertahan di atas jalan Allah harus memiliki nyali yang besar untuk melawan hawa nafsu. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an:<br />
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا<br />
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan urusannya itu melempui batas.&#8221; (Al-Kahfi: 28)<br />
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa tak ada jalan yang ketiga bagi manusia. Di sana hanya ada dua jalan yaitu jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu.<br />
Melawan hawa nafsu berarti mengikuti jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kesabaran. Yaitu kesabaran bersama orang-orang yang ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak membebek kepada orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu.<br />
Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan bahwa hawa nafsu merupakan bahaya laten bagi orang-orang yang berilmu. Karena mereka bisa saja menjadi sesat walaupun berilmu. Sebabnya tak lain adalah karena mengikuti hawa nafsu. Sehingga ilmu yang turun dari Allah tak mampu membuatnya teguh di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:<br />
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ<br />
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu, (yang mana) Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya lalu meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah?” (Al-Jatsiyah: 23)<br />
Semua ini menunjukkan bahaya hawa nafsu bagi manusia. Semoga Allah menyelamatkan kita dari cengkraman maut berbagai hawa nafsu.</p>
<p>Berbicara mengenai hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan sejumlah dalil Al-Qur’an maupun As-sunnah yang membeberkan tentang betapa tercelanya hawa nafsu. Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk berhati-hati terhadap hawa nafsu. Karena setiap detik, setiap menit, dan setiap waktu, kita terancam dengan hawa nafsu. Jika kita tidak mewaspadai hawa nafsu,  maka kita akan terjebak dengan jeratnya tanpa kita sadari.<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan dalam hadits bahwa termasuk yang dikhawatirkan atas umatnya adalah &#8216;hawa nafsu yang bisa menyesatkan&#8217;. Sudah berapa banyak, kalau kita mau menghitung, orang-orang yang menjadi korban hawa nafsu.<br />
Sebagai bukti autentik yang bisa kita ungkap yaitu keberadaan ahlus sunnah yang demikian sedikit. Realita ini menandaskan bahwa yang selain ahlus sunnah dalam jumlah besar adalah orang-orang yang termakan oleh hawa nafsu. Namun kadar diantara mereka tentunya berbeda antara satu dengan yang lain, ada yang banyak, dan ada pula yang sedikit.<br />
Orang-orang yang menyelisihi ahlus sunnah adalah ahlul ahwa` yang mengikuti hawa nafsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Dari tujuh puluh tiga golongan, hanya satu yang selamat. Mereka itu adalah yang mengikuti sunnah Nabi dan para sahabatnya. Oleh karenanya, mereka pun dikenal  dengan sebutan ahlus sunnah. Adapun yang selain mereka adalah orang-orang sesat yang dicap sebagai ahlul ahwa` (pengekor hawa nafsu).<br />
Hawa nafsu itu bisa berupa pemahaman atau syahwat. Pemahaman yang telah dikebiri oleh hawa nafsu akan menggelincirkan seseorang ke dalam pemikiran sesat yang menyimpang. Sementara syahwat yang telah dikuasai oleh hawa nafsu akan menjahtuhkannya  ke dalam kemaksiatan yang nista. Na’udzu billahi min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu).<br />
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dijauhkan dari kejahatan hawa nafsu. Wallahu a’lam bish shawab.</p>
<p><a href="http://alhujjah.files.wordpress.com/2008/05/nestapa-pengikut-hawa-nafsu.pdf">Download format pdf nestapa-pengikut-hawa-nafsu</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=47&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/31/nestapa-pengekor-hawa-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wasiat Fundamental Yang Terabaikan</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/28/wasiat-fundamental-yang-terabaikan/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/28/wasiat-fundamental-yang-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 14:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani Sesungguhnya termasuk perkara penting yang harus selalu kita ingat adalah wasiat-wasiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya yaitu wasiat perpisahan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya-. Dikisahkan oleh ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu sebagai berikut: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=46&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani</em></p>
<p>Sesungguhnya termasuk perkara penting yang harus selalu kita ingat adalah wasiat-wasiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya yaitu wasiat perpisahan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya-. Dikisahkan oleh ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu sebagai berikut:</p>
<p>صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: ((أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ))<span id="more-46"></span></p>
<p>Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sholat bersama kami, kemudian beliau memberi kami sebuah peringatan yang sangat baik. Oleh karenanya, mata-mata kami berlinang dan hati-hati kami bergetar. Maka seorang berkata: &#8220;wahai Rosulullah! Seolah-olah ini adalah peringatan orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau pesankan kepada kami?&#8221;. Beliau pun bersabda: &#8220;Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar, dan taat (kepada penguasa kalian) walaupun dia seorang budak Habsyi. Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat perselisihan yang cukup banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa` Ar-Rosyidin Al- Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing lagi mendapat petunjuk). Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah atasnya dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru dalam agama. Karena sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.&#8221; (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rohimahullah dalam kitabnya ”Al Jami’us Shohih mimma laisa fis Shohihain” 1/198-199 Cet. Daarul Atsaar Yaman)</p>
<p>Hadits ini merupakan wasiat yang sangat agung, di dalamnya terkandung beberapa pelajaran penting yang disampaikan oleh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita tunaikan sepeninggalnya. Dengan mengamalkannya, kita tidak akan terombang-ambing dalam mengarungi ombak dan badai kehidupan dunia ini, sebelum kita menyusul beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ke alam barzakh dan akherat nanti.<br />
Pada hadits yang mulia ini, beliau mewasiatkan tiga perkara kepada kita: yang pertama untuk setiap pribadi yang muslim, yang kedua terhadap pemerintah kaum muslimin, dan yang ketiga mengenai pengamalan agama  secara benar. Adapun yang berkenaan dengan setiap pribadi yang muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): &#8220;Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah azza wa jalla.&#8221; Wasiat beliau untuk bertakwa kepada Allah merupakan wasiat yang sangat agung. Wasiat ini adalah ajaran yang menuntun kita untuk membentengi diri dengan keimanan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Seorang yang bertakwa kepada Allah niscaya akan berhasil membina dirinya. Dengan bertakwa, berarti dia berhasil pula meraih keutamaan serta ganjaran yang cukup besar disisi Allah Ta’ala. Kebaikan dunia dan akhirat terdapat dalam bertakwa kepada Allah. Sekian banyak janji Allah dalam Al-Qur’an hanya dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Di antaranya, Allah berfirman:</p>
<p>وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan untuknya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.&#8221; (Ath-Thalaq: 2-3)</p>
<p>Inilah beberapa keutamaan bertakwa kepada Allah yang akan diraih dalam menapaki kehidupan dunia ini. Allah akan membentangkan jalan keluar dari segala problema hidup yang membelitnya, Allah akan melimpahkan rezeki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan Allah akan mencukupkan kebutuhannya bila takwa disertai dengan penyandaran diri kepada-Nya. Demikianlah janji Allah kepada orang-orang yang bertakwa. Maka barangsiapa yang ingin meraih keberuntungan ini, hendaklah dia bertakwa kepada Allah. Adapun keutamaan bertakwa kepada Allah yang akan digapai dalam kehidupan kampung akherat yaitu memuaskan diri dengan mereguk berbagai kenikmatan surga yang tiada banding. Allah berfirman (yang artinya):  </p>
<p>”Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rob kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imron: 133)</p>
<p>”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka inginkan. (Dikatakan kepada mereka): &#8220;Makan dan minumlah kalian dengan enak karena amal yang telah kalian kerjakan&#8221;. (Al Mursalaat: 41-43)</p>
<p>”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta.  Sebagai pembalasan dari Robmu dan pemberian yang cukup banyak”. (An Naba`: 31-36)</p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat-ayat senada yang berbicara tentang pahala dan ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di kampung akherat nanti.<br />
Bertakwa kepada Allah artinya melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Nya. Bertakwa adalah kalimat yang singkat tetapi pengamalannya merupakan perkara yang cukup berat. Kebanyakan manusia terombang-ambing dalam bertakwa kepada Allah diantara dua kondisi. Sebagian  dari mereka tidak menunaikannya sesuai dengan yang dikehendaki dan diridhoi oleh Allah. Sedangkan sebagian yang lain berlebihan ketika mengamalkannya sehingga melampaui batas dalam beragama. Namun yang berbahagia dan beruntung adalah orang-orang yang menunaikan dan mengamalkannya sesuai dengan keridhoan Allah Ta’ala dan tidak melampui batas agama. Allah berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian meninggal dunia melainkan sebagai orang-orang yang beragama islam.” (Ali &#8216;Imran: 102)</p>
<p>Wasiat beliau yang kedua yaitu menyangkut hubungan dengan pemerintah kaum muslimin, hubungan dalam bernegara dan bermasyarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan (yang artinya): “Aku wasiatkan kepada kalian untuk mendengar dan taat walaupun yang berkuasa atas kalian adalah seorang budak Habasyi.&#8221; Ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunjukkan betapa penting mendengar dan taat kepada pemerintah yang muslim. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهُ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ يُطِعِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي</p>
<p>“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada penguasanya berarti dia telah taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada penguasanya berarti dia telah durhaka kepadaku.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu hurairah radhiyallahu ’anhu)</p>
<p>Maka mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin merupakan perkara yang diperintahkan oleh Islam. Tentu saja mendengar dan taat yang diperintahkan oleh islam itu dalam batas norma-norma kebaikan. Semuanya harus berpijak kepada ajaran Al Quran dan As-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ</p>
<p>“sunguh ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Adapun untuk yang selain kebaikan, kita tidak diperintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah. Namun bukan berarti bahwa kita diperbolehkan melakukan tindakan-tindakan yang menjatuhkan kewibawaan pemerintah tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>السُّلْطُانُ ظِلُّ اللهِ فِي اْلأَرْضِ فََمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ مَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَ اللهُ</p>
<p>“Penguasa itu adalah naungan Allah diatas muka bumi, maka barangsiapa yang memuliakannya niscaya dia akan dimuliakan oleh Allah. Dan barangsiapa yang menghinakannya niscaya dia akan dihinakan oleh Allah.” (HR. Ibnu Abi ’Ashim dan yang selainnya, dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu ’anhu, dihasankan oleh Syaikh Al Albani rohimahullah)</p>
<p>Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: &#8220;Walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak  Habasyi”. Ini bukan berarti bahwa kita disyariatkan untuk mengangkat penguasa dari seorang budak habsyi. Sebab kekuasaan itu pada hakekatnya hendaklah diserahkan kepada seorang yang bersuku Quraisy. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>اْلأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشَ</p>
<p>“Para pemimpin (kaum muslimin) itu adalah dari suku Quraisy”. (HR. Ahmad, At-Thabrani, Al Baihaqi, At-Thayalisi, Ibnu Abi &#8216;Ashim, dan yang lainnya, dari beberapa orang sahabat nabi, diantaranya: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Abu Barzah Al-Aslami, dan yang lainnya. Hadist ini dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa` no (250) )</p>
<p>Sedangkan dalam hadits yang lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ingin memberikan permisalan. Yang beliau lakukan ini dalam rangka mempertegas perintahnya untuk mendengar dan taat kepada pemerintah kita dalam segala kondisi, baik sewaktu sulit atau mudah, suka atau murka, bahkan walaupun mendzolimi kita, selama tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengambil ba’iat dari para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya- agar tetap mendengar dan taat kepada penguasa mereka. Sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian sahabat:<br />
“Baik dalam keadaan kami suka maupun tidak suka&#8221;. (HR.Al Bukhari dan Muslim dari sahabat Ubadah bin As-Shamit radhiyallahu ’anhu)<br />
Adapun wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketiga yaitu mengenai pengamalan agama secara benar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):<br />
&#8220;Barangsiapa yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat perselisihan yang cukup banyak”.<br />
Yakni perselisihan dalam masalah agama. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
“ Wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa` Ar-Rosyidin Al- Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing lagi mendapat petunjuk)&#8221;.<br />
Yakni berpegang kepada ajaran agama yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, secara lebih khusus para Khulafa` Ar-Rosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) –semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya-. Perintah beliau ini membimbing kita untuk memahami agama sesuai dengan Sunnahnya dan pemahaman para sahabatnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
“Berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah atasnya dengan gigi-gigi geraham kalian&#8221;.<br />
Pernyataan ini merupakan penekanan yang extra dalam memegang sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sekuat-kuatnya, sampai diibaratkan seperti menggigitnya dengan gigi-gigi geraham. Seorang yang menggigit dengan gigi-gigi gerahamnya terbukti lebih kuat daripada yang menggigit dengan gigi-giginya yang lain. Bahkan gigitannya tidak akan mampu dilepaskan walaupun dengan tarikan yang menghentak kecuali jika gigi-gigi geraham itu telah tercabut dari  akarnya.<br />
Maksud dari semua ini yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memegang teguh sunnahnya dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Sebab di masa belakangan sepeninggal beliau nanti, akan terjadi perkara-perkara baru dalam agama yang memancing kita untuk mengikuti angkara murka hawa nafsu kita. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
“ Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru dalam agama. Karena sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat”.<br />
Wallahu a’lam bish shawab ***</p>
<p><a href="http://alhujjah.files.wordpress.com/2008/05/wasiat-fundamental-yang-terabaikan.pdf">Download pdf wasiat-fundamental-yang-terabaikan</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=46&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/03/28/wasiat-fundamental-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senjata yang Paling Ampuh</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/02/01/senjata-yang-paling-ampuh/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/02/01/senjata-yang-paling-ampuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 10:57:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Tertulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Khutbah yang pertama oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani Wahai para hamba Allah, sidang jum&#8217;at yang dimuliakan oleh Allah &#8230; Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini akan dipenuhi oleh berbagai cobaan dan rintangan. Maka tak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada Allah semata. Setiap urusan dan perkara bergantung kepada kehendak dan kekuaasan-Nya. Tak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=44&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Khutbah yang pertama</b></p>
<p><i>oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani</i></p>
<p>Wahai para hamba Allah, sidang jum&#8217;at yang dimuliakan oleh Allah &#8230;</p>
<p>Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini akan dipenuhi oleh berbagai cobaan dan rintangan. Maka tak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada Allah semata. Setiap urusan dan perkara bergantung kepada kehendak dan kekuaasan-Nya. Tak ada yang bisa memberi kemaslahatan dan menghindarkan dari bahaya kecuali hanya Dzat-Nya dan tak ada sekutu bagi-Nya.<br />
Oleh karena itu, bertawakal kepada Allah merupakan senjata ampuh bagi kaum mukminin dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang waktu demi waktu semakin tajam.<span id="more-44"></span> Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an:<br />
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ<br />
“ dan hanya kepada Allah,  kaum mukminin bertawakal.” (Ali Imran: 122)<br />
Ayat ini menunjukkan bahwa bagi kaum mukminin, tak ada yang bisa memberikan rasa aman, kemaslahatan, dan perlindungan dari berbagai marabahaya, kecuali hanya Allah semata. Allah ta’ala berfirman:<br />
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ<br />
&#8220;Kemudian jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159)</p>
<p>Sesungguhnya setiap urusan yang akan diperbuat oleh setiap hamba sangat membutuhkan kepada pertolongan dan kemudahan dari Allah Ta’ala. Yang bisa mewujudkannya hanya Allah saja dan tidak yang selainnya. Maka bagi kaum mukminin, Allah Ta’ala merupakan tempat menggantungkan diri dalam menghadapi segala urusan yang mereka lakukan di dunia ini. Sehingga keinginan, harapan, dan tujuan mereka tercapai dan terpenuhi dengan seizin Allah.<br />
Sebagai bentuk tawakal kepada Allah, hendaknya setiap perkara baik yang akan dilakukan oleh seorang mukmin, diawali dengan ucapan ’bismillah’ untuk memohon pertolangan dan kemudahan dari Allah. Inilah madzhab ahlus sunnah dalam memaknai ucapan ’bismillah’ dari seorang hamba yang tunduk kepada Dzat yang Maha kuasa.<br />
Allah ta’ala berfirman:<br />
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا<br />
&#8220;Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.&#8221; (Ath-Thalaq: 3)</p>
<p>Maka seluruh perkara berada di tangan Allah yang memiliki seluruh alam ini. Allah ta’ala berfirman:<br />
وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ<br />
&#8220;Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi, kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan seluruhnya, maka sembahlah dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Robmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.&#8221; (Hud: 123)</p>
<p><b>Khutbah yang kedua</b></p>
<p>Wahai para hamba Allah, sidang jum&#8217;at yang dimuliakan oleh Allah &#8230;</p>
<p>Dalam sebuah hadits, dari sahabat Abu huroiroh radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alahi wasallam bersabda:<br />
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيّ خَيْرٌ وَأَحَبّ إِلَىَ اللّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضّعِيفِ. وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ.<br />
&#8220;Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan.” (HR. Muslim)<br />
Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan seorang hamba adalah pada keimanannya. Oleh sebab itu, Rosulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengkaitkan keimanan dengan kekuatan seorang hamba. Maka jika keimanan seorang hamba bertambah kuat, niscaya dirinya akan semakin dicintai oleh Allah daripada seorang hamba yang lemah keimanannya.<br />
Lalu darimanakah bermula kekuatan iman bagi seorang hamba? Kekuatan iman yang sangat besar akan lahir dari bertawakal kepada Allah. Sebagaimana yang diucapkan oleh sebagian salaf: &#8220;Barangsiapa yang ingin menjadi seorang hamba yang kuat (keimanannya), maka hendaklah dia bertawakal kepada Allah”. Ucapan ini mensiratkan bahwa tawakal kepada Allah mendatangkan kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Itulah sebabnya, keimanan seorang hamba akan menjadi kuat dengan bertawakal kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.<br />
Tawakal di dalam Islam memiliki kedudukan yang cukup tinggi. Ibnu Qayyim rohimahulah berkata dalam kitabnya ”Madarijus Salikin”: “Bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan setengah dari agama”. Ini menunjukkan bahwa bertawakal kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam.<br />
Apakah yang dimaksud dengan bertawakal kepada Allah? Bertawakal kepada Allah yaitu seorang hamba benar-benar menyandarkan dan mempasrahkan dirinya kepada Allah di dalam menggapai berbagai kemaslahatan atau menolak berbagai marabahaya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Maka inilah yang disebut dengan bertawakal kepada Allah. Dengan bertawakal kepada Allah, seorang hamba akan memiliki kekuatan iman dalam meraih seluruh yang dinginkannya dari segala kebaikan dunia maupun akherat.<br />
Allah ta’ala berfirman:<br />
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ<br />
“Dan bertakwalah kalian kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.” (Al-Maidah: 11)<br />
Bagi seorang yang tidak bertawakal kepada Allah, maka cobaan yang kecil sekalipun akan mampu menggoncangkan keimanannya. Perkara yang sedikit sekalipun akan bisa memalingkannya dari menghadap Allah ta’ala. Semua itu karena dia telah kehilangan tawakal kepada Allah secara keseluruhan atau sebagiannya.<br />
Pernyataan Allah pada ayat diatas: “Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal”, ini menunjukkan bahwa seorang yang lemah keimanannya akan berkurang tawakalnya dan seorang yang lemah tawakalnya akan berkurang keimanannya. Maka tidak ada keimanan bagi seorang yang sama sekali tidak bertawakal kepada Allah.<br />
Wallahua’lam bi shawab.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=44&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/02/01/senjata-yang-paling-ampuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nikmat dan Adzab Kubur</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/25/nikmat-dan-adzab-kubur/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/25/nikmat-dan-adzab-kubur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 03:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Tertulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani Khutbah yang pertama Wahai para hamba Allah, sidang jum&#8217;at yang dimuliakan oleh Allah &#8230; Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: إِنّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلّىَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولاَنِ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=43&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al Maidani</i></p>
<p><b>Khutbah yang pertama</b></p>
<p>Wahai para hamba Allah, sidang jum&#8217;at yang dimuliakan oleh Allah &#8230;</p>
<p>Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إِنّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلّىَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرّجُلِ ؟ فَأَمّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنّهُ عَبْدُ اللّهِ وَرَسُولُهُ. قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: &#8220;انْظُرْ إِلَىَ مَقْعَدِكَ مِنَ النّارِ. قَدْ أَبْدَلَكَ اللّهُ بِهِ مَقْعَداً مِنَ الْجَنّةِ&#8221; قَالَ نَبِيّ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: &#8220;فَيَرَاهُمَا جَمِيعاً&#8221;.<br />
“Sesungguhnya seorang hamba bila diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah kembali pulang, sunggguh dia akan mendengarkan gesekan sandal-sandal mereka. Datang kepadanya dua malaikat, maka keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya, &#8216;Apa pendapatmu tentang orang ini (yakni nabi kita Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam)? Adapun seorang yang mukmin akan menjawab, ’Aku bersaksi bahwasanya dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya’. Maka dinyatakan kepadanya, &#8216;Lihatlah kepada tempatmu di neraka, sungguh telah digantikan oleh Allah dengan sebuah tempat di surga.&#8221; Maka Nabi Allah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, &#8220;Kemudian dia melihat kedua tempat tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<span id="more-43"></span></p>
<p>Ma&#8217;asyirol muslimin rohimakumullah…</p>
<p>Hadits ini menceritakan kepada kita bagaimana &#8216;pertanyaan yang terjadi di alam kubur&#8217;. Adapun orang-orang yang beriman akan dikokohkan oleh Allah sewaktu mereka ditanya di dalam kubur masing-masing. Itulah yang dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Quran yang mulia:</p>
<p>يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ</p>
<p>&#8220;Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.&#8221; (Ibrahim: 27)</p>
<p>Permulaan dari alam akhirat adalah alam barzakh (alam kubur). Oleh karena itu, seorang yang beriman akan dikokohkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaan kubur, sebagaimana di dalam hadits yang telah lalu.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dari hadits Al-Bara’ bin ‘Azib , bahwa Rasulullah  bersabda:<br />
(الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ: يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. فَذَلِكَ قَوْلُهُ: يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ)<br />
&#8220;Seorang hamba yang muslim bila ditanya di dalam kuburnya, niscaya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Maka itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: &#8216; Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat&#8217;.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Allah mudahkan baginya untuk menjawab pertanyaan kubur dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ’Laa Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah.<br />
Perkara  yang akan ditanyakan oleh dua malaikat kepada seorang hamba yang baru saja meninggal, bila telah selesai dikuburkan, ada tiga hal:<br />
yang pertama: (مَنْ رَبُّكَ)<br />
“Siapa Rabbmu”<br />
yang kedua: (وَمَا دِيْنُكَ)<br />
“Apa agamamu”<br />
yang ketiga: (وَمَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِيْ بُعِثَ فِيْكُم)<br />
&#8220;Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?”</p>
<p>Maka seorang yang mukmin akan menjawab: “Rabku adalah Allah, agamaku adalah Islam, sedangkan orang ini adalah Muhammad utusan Allah.&#8221; Lalu ditanyakan kepadanya: “Apa yang memberitahumu mengenai jawaban ini?” Dia menjawab: &#8220;Aku membaca Al-Qur’an, beriman kepadanya, dan membenarkannya.”<br />
Dengan demikian, seorang yang mukmin selamat dari siksa kubur karena bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya itu. Berbeda dengan seorang yang kafir ketika ditanya: “Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?” Dia hanya bisa menjawab: &#8220;Ha..ha.. aku tidak tahu.” Inilah keadaan seorang yang kafir sewaktu ditanya di dalam kuburnya.</p>
<p>Itulah fitnah kubur, yaitu pertanyaan dua malaikat yang dihadapkan kepada seorang yang baru saja meninggal. Dua malaikat yang menanyai seorang yang baru saja meninggal disebut dengan Munkar dan Nakir. Sebagaimana hal ini terdapat di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu yang dikeluarkan oleh Imam At-Turmudzi dengan sanad yang hasan, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ، أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ. يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيْرُ</p>
<p>“Apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya disebut Al-Munkar dan yang lain disebut An-Nakir.” (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh syaikh Al AlBani dalam tahqiqnya atas ”Syarh Aqidah Thahawiyyah” hal. 399)</p>
<p>Maka ini adalah nama dua malaikat yang akan menanyai seorang yang baru saja dikubur. Keduanya akan bertanya tentang “Siapa Rabmu, apa agamamu, dan siapa orang yang telah diutus di antara kalian ini?”<br />
Seorang yang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun seorang yang kafir, ketika tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.</p>
<p>Ma&#8217;asyirol muslimin rohimakumullah…</p>
<p>Di sini para ulama berselisih pendapat: Apakah pertanyaan kubur hanya khusus pada umat ini atau juga umum pada umat-umat yang sebelumnya?<br />
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur berlaku umum pada seluruh umat dari yang pertama sampai yang terakhir. Pendapat ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya ”Syarh Lum’atil I’tiqod”( hal. 112)<br />
Kemudian terjadi pula perselisihan di kalangan para ulama: Apakah pertanyaan ini bagi orang-orang yang mukallaf saja atau juga bagi orang-orang yang tidak mukallaf seperti anak kecil dan orang gila yang meninggal?<br />
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, bahwa pertanyaan kubur mencakup semuanya. Baik yang mukallaf atau tidak mukallaf. Maka pertanyaan kubur itu juga diarahkan bagi anak kecil dan orang gila yang meninggal, karena keumuman dalil-dalil yang berbicara tentang pertanyaan kubur. Demikian pula dikuatkan dengan dalil bahwa anak kecil atau orang gila yang meninggal dari kalangan muslimin, diperintahkan kepada kita untuk menshalatkan dan mendoakannya agar dilindungi oleh Allah dari adzab kubur. Hal ini menunjukkan bahwa mereka juga mendapatkan &#8216;pertanyaan kubur&#8217;.<br />
Oleh sebab itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ar-Ruh yang dinisbatkan kepada beliau, menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa pertanyaan kubur berlaku secara umum, baik bagi yang mukallaf  maupun tidak.<br />
Adapun mengenai pertanyaan kubur: Apakah khusus bagi kaum mukminin saja atau juga umum meliputi orang-orang kafir? Menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para ulama, bahwa pertanyaan kubur meliputi kaum mukminin dan orang-orang kafir secara umum. Banyak dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang mengasumsikan kepada kita bahwa orang-orang kafir juga akan ditanya oleh dua malaikat di dalam kubur mereka. Di antaranya adalah hadits yang telah kita bacakan sebelumnya yaitu hadits Al-Bara’ bin ’Azib yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu, Dawud, An Nasai, Ibnu Majah dan yang selainnya.<br />
Wallahu a’lam bish shawab</p>
<p><b>Khutbah yang kedua</b></p>
<p>Wahai para hamba Allah, sidang jum&#8217;at yang dimuliakan oleh Allah . . .</p>
<p>Yang mendapatkan pengecualian dari pertanyaan kubur adalah &#8216;orang yang mati syahid&#8217;. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam An-Nasai dengan sanad yang shahih. Bahwa salah seorang dari sahabat Rasulullah  datang kepada beliau  dan bertanya: “Wahai Rasulullah! kenapa seluruh kaum mukminin diuji di dalam kuburnya kecuali orang yang mati syahid?” Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam menjawab:</p>
<p>كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنُةً<br />
“Cukuplah kilatan pedang yang berada di atas kepalanya sebagai ujian tersendiri”. (HR. An-Nasai dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitabnya ”Ahkamul Janaiz” hal. 36)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid tidak diuji, yakni tidak ditanya oleh dua orang malaikat di dalam kuburnya. Maka ini merupakan pengecualian.<br />
Pengecualian yang lain adalah orang yang meninggal ketika berada di front terdepan untuk berjaga-jaga dalam jihad fi sabilillah. Kondisi ini diistilahkan dengan “Al-Murobith fi sabilillah”. Maka orang yang demikian ini, bila meninggal tidak akan ditanya di dalam kuburnya. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu ’anhu.<br />
Sekeluarnya dari fitnah kubur, seorang yang meninggal akan memasuki fase yang disebut dengan nikmat kubur atau adzab kubur. Seorang mukmin setelah bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia memperoleh nikmat kubur.<br />
Kemudian datang seruan dari langit: “hamba-Ku ini telah benar, Bentangkanlah untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga&#8221;.<br />
Harum wangi surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya, dan harum wanginya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si mukmin bertanya kepadanya, siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan. Dia pun menjawab, aku adalah amalmu yang sholih. Lalu si mukmin berkata, wahai Robbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku&#8221;.<br />
Adapun seorang yang kafir ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat yang datang kepadanya, maka dia dihadapkan kepada adzab kubur.<br />
Kemudian datang seruan dari langit: “dia telah berdusta, bentangkanlah untuknya permadani dari api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka. Sehingga hawa panas dan racun neraka pun menerpanya dan kuburnya di persempit sampai tulang-tulang rusuknya saling bergeser. Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya, pakainnya, dan busuk baunya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan memperburuk keadanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si kafir bertanya, siapakah engkau? Wajahmu dalah wajah yang datang dengan membawa keburukan. Dia pun menjawab, aku adalah amalmu yang buruk. Lalu si kafir berkata, wahai Robku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat”.</p>
<p>Itulah keadaan seorang yang mukmin dan seorang yang kafir setelah ditanya di dalam kuburnya. Seorang yang kafir disiksa karena tidak bisa menjawab pertanyaan kubur. Namun bukan berarti bahwa setiap mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin yang bermaksiat kepada Allah berkemungkinan merasakan adzab kubur, bila Allah tidak berkehendak mengampuni dosanya.<br />
Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam  pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:<br />
إِنّهُمَا لَيُعَذّبَانِ، وَمَا يُعَذّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، ، وَأَمّا الاَخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنّمِيمَةِ<br />
”Orang-orang yang berada di dalam dua kubur ini, sungguh sedang disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa karena suatu masalah yang besar. Adapun salah satu dari keduanya, dahulu  tidak mau menjaga diri dari air kencing. Sedangkan yang lain, dahulu biasa berjalan untuk mengadu domba”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Kemudian Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.</p>
<p>Ma&#8217;asyirol muslimin rohimakumullah…</p>
<p>Apakah adzab kubur akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat atau disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa ?<br />
Jawabnya: di antara adzab kubur ada yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat dan ada pula yang disesuaikan dengan kadar dosa orang yang disiksa.<br />
Yang akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat adalah adzab kubur bagi orang-orang yang kafir. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyatakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya:<br />
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ<br />
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, serta pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): &#8220;Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras&#8221;. (Al-Mukmin (Ghafir): 46)<br />
Dari ayat ini, ulama menyimpulkan bahwa adzab kubur bagi orang-orang yang kafir akan berlangsung sampai terjadinya hari kiamat.<br />
Dalil yang lain adalah hadits Al-Bara` bin ’Azib yang sebelumnya telah kita bacakan, pada sebuah riwayatnya disebutkan: &#8220;Bahwasanya tatkala seorang yang kafir tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat itu, maka kepadanya dinampakkan tempatnya di dalam neraka, dan perkara ini akan berlangsung sampai hari kiamat&#8221;.<br />
Adapun adzab kubur yang berlangsung sesuai dengan kadar dosa orang yang disiksa adalah adzab kubur yang ditimpakan kepada para pelaku dosa besar. Allah akan menyiksanya di dalam kubur sesuai dengan kadar dosanya, kemudian akan diperingan dan tidak akan berlangsung sampai terjadi hari kiamat. Wallahu a’lam bi shawab.<br />
***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=43&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/25/nikmat-dan-adzab-kubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudah Saatnya Kita Bangkit&#8230;</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/16/sudah-saatnya-kita-bangkit/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/16/sudah-saatnya-kita-bangkit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 07:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/16/sudah-saatnya-kita-bangkit/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al-Maidani Dalam kesempatan yang mulia ini, kita memanjatkan puji syukur kepada Allah yang masih menganugerahkan kepada kita, kesempatan untuk tetap mengecap nikmat Allah yaitu menuntut ilmu. Sesungguhnya majelis-majelis Ahlus Sunnah yang dipenuhi oleh kaum muslimin dalam rangka menuntut ilmu tentang agama Allah, inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena majelis-majelis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=26&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al-Maidani<br />
</i></p>
<p>Dalam kesempatan yang mulia ini, kita memanjatkan puji syukur kepada Allah yang masih menganugerahkan kepada kita, kesempatan untuk tetap mengecap nikmat Allah yaitu menuntut ilmu.</p>
<p>Sesungguhnya majelis-majelis Ahlus Sunnah yang dipenuhi oleh kaum muslimin dalam rangka menuntut ilmu tentang agama Allah, inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah merupakan kelanjutan dari majelis-majelis para nabi. Di sana diajarkan tentang wahyu Allah yang berupa Al Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Sehingga orang-orang yang keluar dari majelis-majelis ahlus sunnah mampu membawa pengetahuan tentang agama Allah, penambahan iman, dan kekuatan di dalam memegang As Sunnah.<span id="more-26"></span> Maka lahirlah dari majelis-majelis ilmu ini orang-orang yang militan terhadap agama Allah.</p>
<p>Berkata Sahl bin Abdillah At Tusturi rahimahullah:</p>
<p>من أراد أن ينظرإلى مجالس الأنبياء فلينظرإلى مجالس العلماء</p>
<p>“Barangsiapa yang ingin melihat kepada majelis-majelis para nabi ‘alaihimus shalaatu was salaam, maka silahkan dia melihat kepada majelis-majelis para ulama&#8221;.</p>
<p>Apa yang menyebabkan majelis-majelis para ulama disamakan dengan majelis-majelis para nabi? Jawabannya, karena majelis-majelis itu sama-sama mengajarkan tentang agama dan hukum Allah. Oleh sebab itu musuh-musuh Islam sangat tidak senang dan selalu membuat makar siang malam agar para pemuda Islam tidak memenuhi majelis-majelis Ahlus Sunnah yang mengajarkan tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.</p>
<p>Demikian pula ahlul bid’ah. Mereka punya andil besar dalam mengkaburkan dakwah Ahlus Sunnah. Mereka selalu menebarkan berbagai fitnah untuk menjauhkan para pemuda dari majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah. Mereka punya kepentingan, ambisi, dan tendensi tertentu yang mendorong mereka untuk melarikan para pemuda dari majelis-majelis Ahlus Sunnah. Sebab dengan keberadaan majelis-majelis Ahlus Sunnah, para pemuda Islam tidak lagi menghiraukan dakwah mereka, tidak lagi gampang dibodohi oleh mereka, dan tidak lagi mudah diperalat oleh mereka. Melalui majelis-majelis Ahlus Sunnah, mereka mendengarkan pelajaran-pelajaran tentang Al Quran dan Sunnah Rasulullah yang bersih dan lepas dari segala kefanatikan, lepas dari segala kepentingan, lepas dari segala nuansa politik yang kotor, dan segala ambisi para tokoh yang licik dan jahat. Inilah yang sesungguhnya menjadi momok  bagi ahlul bathil baik dari kalangan orang-orang kafir maupun mubtadi’ah.</p>
<p>Amerika dan sekutunya sangat tidak senang terhadap dakwah Ahlus Sunnah. Maka seperti itu pula ahlul bid’ah. Tidak jauh kemungkinan bahwa berbagai aliran sesat dan menyimpang dari Islam yang murni, sengaja dipelihara oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan para pemuda islam dari dakwah Ahlus Sunnah dan Sunnah Rasulullah. Tidak jauh kemungkinan bahwa yang membuat semakin keruh kondisi perpecahan, perselisihan, dan pertikaian dalam agama ini adalah andil dan campur tangan Amerika beserta sekutu-sekutunya yang memperalat ahlul bathil dan ahlul bid&#8217;ah untuk merusak dakwah Islam, sehingga para pemuda Islam disibukkan dengan berbagai aliran, pemahaman, dan pemikiran yang sesat lagi menyimpang. Sebagaimana hal ini, pernah dinyatakan oleh guru kami yang mulia As-Syaikh Muqbil Al-Wadi&#8217;I -semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas-.</p>
<p>Kita menandaskan perkara ini, dikarenakan orang-orang kafir tidak pernah diam dan rela terhadap kaum muslimin. Mereka mengerti bahwa sesungguhnya bahaya laten yang paling mengerikan adalah ketika para pemuda Islam mulai kembali mempelajari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Mereka takut bila para pemuda islam kembali membongkar kitab-kitab para ulama terdahulu, seperti kitab-kitab Imam Malik, imam Syafi&#8217;i, imam Ahmad, imam Al-Bukhori, imam Muslim, dan para ulama yang lainnya. Mereka tidak ingin para pemuda islam kembali kepada generasi yang terdahulu. Padahal kebaikan itu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik rahimahullah:</p>
<p>لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها<br />
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara yang membuat baik generasi pendahulunya.&#8221;</p>
<p>Demi kepentingan merusak pemahaman Islam ditengah-tengah kaum muslimin, orang-orang kafir mendirikan berbagai sekolahan, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi,baik formal atau non formal, yang dengan sengaja mendalami Islam guna merusaknya. Mereka berhasil menguasai literatur-literatur Islam. Banyak manuskrip yang masih dalam bentuk tulisan tangan para ulama Ahlus Sunnah berada di negeri-negeri mereka dan dijaga ketat oleh mereka.  tidak sembarang orang bisa mengambil dan memanfaatkannya. Bahkan jika kaum muslimin sendiri ingin menggunakan literatur-literatur itu terpaksa harus membayar kepada mereka. Itu pun hanya mendapatkan kopiannya saja. Padahal siapa yang lebih berhak terhadap referensi-referensi tadi?</p>
<p>Sekian banyak kitab para ulama Ahlus Sunnah berada di tangan mereka. Mereka berupaya mempelajari bidang-bidang disiplin keilmuwan Islam dan mendalami kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah. Mereka punya sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi yang langsung mendidik kader-kader untuk mempelajari sekaligus merusak Islam. Mereka mempelajari Islam dengan harapan bisa membuat kekacauan, pengkaburan, dan pemahaman yang keliru terhadap Islam. Mereka mempelajari Al Quran dengan berbagai tafsirnya dan kitab-kitab hadits dengan berbagai penjelasannya. Setelah itu, mereka berusaha mencari perkara-perkara samar yang kira-kira bisa dipakai sebagai senjata makan tuan terhadap kaum muslimin. Syubhat-syubhat mereka yang tajam dengan gampang mampu menembus jantung-jantung kaum muslimin yang lemah iman dan ilmu agamanya.</p>
<p>Orang-orang yang masuk ke dalam sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi mereka ini, akan lulus sesudah berstatus sebagai zindiq atau Munafik. Merekalah para orientalis yang merusak Islam. Subhanallah, ternyata mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah bila tidak dengan aqidah dan niat yang benar, tidak akan menggiring kepada hidayah Allah kecuali bagi siapa yang dirahmati oleh Allah.</p>
<p>Salah satu kisah yang menjadi pukulan berat dan telak atas musuh-musuh islam adalah peristiwa yang dialami oleh seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Muhammad Khalil Harras rahimahullah. Insya Allah kebanyakan penuntut ilmu mengenal beliau walaupun melalui tulisan-tulisannya. Di antara karangan beliau adalah kitab &#8220;syarhul &#8216;Aqidatil Waasithiyyah&#8221; dan banyak lagi yang lainnya.</p>
<p>Sesungguhnya beliau rahimahullah adalah seorang profesor dalam bidang ilmu kalam, filsafat, di Universitas Al Azhar, Mesir. Beliau ditugaskan secara khusus oleh pembimbingnya untuk meneliti seluruh karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang membantah kebatilan filsafat ahlul kalam. sampai saat itu bahkan saat ini, bantahan syaikhul islam belum pernah terjawab oleh mereka. Syaikh Muhammad Kholil Harras karena kejeniusan dan kecerdasannya diminta untuk mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam, yang nantinya akan digunakan untuk menyerang kembali pemahaman-pemahaman yang diajarkan oleh syaikhul Islam. Maka beliau rahimahullah mulai mempelajari satu per satu dari kitab-kitab Syaikhul Islam.</p>
<p>Ternyata Allah berkehendak lain terhadap beliau. Allah takdirkan bahwa dengan mempelajari, mendalami, memeriksa dan meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam rahimahullah, justru beliau mendapat petunjuk kepada kebenaran pemahaman Ahlus Sunnah. Akhirnya, beliau benar-benar mengetahui bagaimana kebenaran ahlus sunnah dalam bidang aqidah, manhaj, dan yang lainnya, terlebih khusus dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah. Sehingga Asy Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah kembali kepada jalan yang haq, dakwah Ahlus Sunnah, dan meninggalkan pemahamannya yang semula. Beliau mengikrarkan bahwa dirinya kembali kepada pemahaman yang dibawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu pemahaman Ahlus Sunnah yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.</p>
<p>Beliau tinggalkan gurunya dan terus giat mempelajari serta meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sampai akhirnya beliau dianggap sebagai ulama yang kokoh dan mapan dalam bidang aqidah secara khusus. Beliau sangat mengerti tentang pemahaman yang dikemukan oleh Syaikhul Islam, yang sekaligus merupakan madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam bidang aqidah, terlebih khusus mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah.</p>
<p>Selanjutnya beliau berpindah ke negara Saudi Arabia. Di negeri ini, lebih memungkinkan bagi beliau untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan ilmiah tentang pemahaman Ahlus Sunnah, sekaligus menyebarkan ilmu dan dakwah Ahlus Sunnah yang telah dibukakan oleh Allah kepada beliau.</p>
<p>Banyak karangan beliau dalam bidang aqidah dan rata-rata karya tulis beliau sangat baik. Diantaranya &#8220;Syarhul ‘Aqidatil Waasithiyyah&#8221;, yang selama ini selalu menjadi rujukan bagi para ulama dan penuntut ilmu dalam melihat pemahaman yang dimaksud oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya &#8220;Al &#8216;Aqidatul Waasithiyyah&#8221;. Kitab beliau yang lain yaitu syarh (penjelasan) terhadap &#8220;An-Nuuniyyah&#8221; karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Disamping itu, beliau rahimahullah juga membuka majelis ilmu untuk mengajarkan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Majelis ilmu yang beliau adakan mampu melahirkan ulama yang kokoh dalam bidang aqidah seperti beliau. Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan dianggap sebagai salah seorang ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mapan dalam bidang aqidah, yaitu Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah.</p>
<p>Demikianlah sesungguhnya majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah, ternyata sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Suatu hal yang masih saya ingat dari ucapan guru kami As-Syaikh Muqbil rahimahullah, di mana beliau tak jarang mengatakan kepada para muridnya: “Ya ikhwan, demi Allah, sesungguhnya Amerika dan sekutu-sekutunya tidak takut kepada tank-tank baja dan segala persenjataan yang kita miliki. Yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam adalah majelis-majelis ilmu yang seperti ini. Karena majelis-majelis ilmu ini yang akan melahirkan orang-orang yang mengerti tentang agama Allah, ikhlas, jujur, dan bersungguh-sungguh dalam memperjuangkannya”, atau sebagaimana yang diucapkan oleh beliau rohimahullah.</p>
<p>Adapun orang-orang yang selalu berteriak dengan yel-yel jihad. Padahal yang mereka maksud dengan jihad adalah memberontak atau kudeta terhadap pemerintah-pemerintah kaum muslimin dan mengacaukan stabilitas keamanan mereka. Demi Allah sesungguhnya mereka tidak ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Tanpa mereka sadari, justru mereka telah menjadi jongos, kaki tangan, serta antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Islam dan kaum muslimin sangat dirugikan dengan keberadaan mereka. Akibat aksi-aksi teror mereka yang arogan dan tidak sesuai dengan syariat islam di berbagai negeri, orang-orang kafir akan dengan gampang menjelek-jelekan Islam. “Coba lihat agama Islam yang haus akan darah. Coba lihat agama Islam yang selalu membuat kekacauan. Coba lihat kaum muslimin, mereka adalah para teroris”. Masih banyak lagi tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan kepada Islam dan kaum muslimin karena tindakan-tindakan bodoh dan gegabah yang mereka lakukan itu.</p>
<p>Sehingga di sebagian negara seperti Inggris, kita dapatkan seorang yang memiliki janggut panjang sampai ke dadanya, berorasi dengan menyuarakan “Jihad!! Jihad!!”, di televisi secara bebas. Tak ada pihak penguasa yang menghiraukan, menggubris, terlebih lagi menangkapnya. Hal itu terjadi berulang kali, sebagaimana yang diberitakan kepada saya oleh sebagian ikhwan salafi inggris yang insyaallah terpercaya. Inilah diantara indikasi yang menguatkan asumsi bahwa mereka itu justru menjadi jongos, kaki tangan, dan antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Sebab musuh-musuh Islam mengetahui dengan baik bahwa yang dilakukan kaum pergerakan itu dapat merusak agama kaum muslimin dan tidak memperbaikinya.</p>
<p>Tetapi mereka, seperti pepatah orang kita, lempar batu sembunyi tangan. Mereka balik menuduh bahwa Ahlus Sunnah yang telah menjadi kaki tangan Amerika dan musuh terhadap dakwah Islam. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah itu dibantu oleh Amerika atau dibantu oleh Israil”.<br />
Na&#8217;uuzubillahi min zalik.</p>
<p>Ini pula yang disebut dalam pepatah arab yang artinya:</p>
<p>“Dia melemparku dengan penyakitnya kemudian dia berlalu”.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaklah para pemuda dan pemudi islam menyadari kondisi ini. Sudah saatnya mereka bergegas utuk mempelajari islam yang benar dengan sumber yang terpercaya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Marilah kita bangkit dari kelalaian, kelengahan, dan keteledoran kita selama ini. Hendaknya kita tinggalkan segala perkara yang tidak bermanfaat dan kesia-siaan. Singsingkan lengan baju kita untuk berjibaku dengan ilmu dan meninggalkan segala perdebatan yang tidak bermanfaat. Kita yakin sepenuhnya bahwa Allah akan membela agama dan para wali-Nya. Tak ada yang mampu membongkar kedok kebathilan kecuali hanya Allah, melalui kemapanan ilmu dan hujjah yang diberikan-Nya kepada orang-orang mulia dari para hamba-Nya. Dahulu para Salaf kita yang baik, menyingkirkan segala kesesatan dengan kekuatan ilmu dan hujjah bukan dengan kekuatan lisan semata. Akhirnya, kita memohon semoga Allah mengokohkan hati-hati kita diatas islam.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bish shawab</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=26&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/16/sudah-saatnya-kita-bangkit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Ruh ketika Meninggalkan Dunia</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/15/perjalanan-ruh-ketika-meninggalkan-dunia/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/15/perjalanan-ruh-ketika-meninggalkan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 14:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Tertulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/15/perjalanan-ruh-ketika-meninggalkan-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani Khutbah yang pertama Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . . Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, serta yang selainnya, telah meriwayatkan dari hadits Al-Baro’ bin ‘Azib, bahwa suatu ketika para sahabat berada di pekuburan Baqi’ul ghorqod. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=25&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani</i></p>
<p><b>Khutbah yang pertama</b></p>
<p>Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . .</p>
<p>Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, serta yang selainnya, telah meriwayatkan dari hadits Al-Baro’ bin ‘Azib, bahwa suatu ketika para sahabat berada di pekuburan Baqi’ul ghorqod. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka. Beliau pun duduk. Sementara para sahabat duduk disekitarnya dengan tenang tanpa mengeluarkan suara, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Beliau sedang menanti penggalian kubur seorang yang baru saja meninggal.<span id="more-25"></span><span></span></p>
<p>Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa tatkala seorang hamba berada di pekuburan, dituntunkan kepadanya untuk bersikap tenang, diam, hening, dan tidak mengucapkan dzikir-dzikir dengan suara yang keras. Terlebih lagi berbicara mengenai urusan-urusan dunia yang fana. Dalam suasana yang seperti ini, hendaknya dia berpikir tentang kematian yang akan menimpa setiap manusia tanpa terkecuali. Sudahkah dia berbekal diri untuk menghadapinya. Ini membutuhkan perenungan yang dalam, sehingga melahirkan keimanan, ketakwaan, dan amal sholeh yang diterima disisi Allah.</p>
<p>Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…</p>
<p>Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya dan mengucapkan:</p>
<p>أعوذ بِاللّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْر<br />
“Aku berlindung kepada Allah dari adzab kubur.”</p>
<p>Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya bila seorang yang mukmin menghadap ke alam akhirat dan meninggalkan alam dunia, turun kepadanya sejumlah malaikat berwajah putih yang seolah-olah seperti matahari. Mereka membawa sebuah kain kafan dan minyak wangi dari surga. Mereka pun duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya. Malaikat pencabut nyawa berkata:</p>
<p>يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطيبة، أخرجي إلي مغفرة من الله و رضوان<br />
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau kepada keampunan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”</p>
<p>Maka nyawanya keluar dan mengalir seperti air yang mengucur dari mulut wadah. Lalu malaikat pencabut nyawa mengambilnya. Nyawanya tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat pencabut nyawa dan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih tadi. Kemudian mereka meletakkannya pada kain kafan dan minyak wangi surga yang telah mereka bawa. Maka nyawanya mengeluarkan aroma minyak wangi misik yang paling terbaik di muka bumi. Lalu mereka menyertainya untuk naik ke langit. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu akan bertanya: “Siapakah nyawa yang baik ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah Fulan bin Fulan”, dan disebutkan namanya yang paling terbaik ketika mereka memanggilnya di dunia.</p>
<p>Tatkala mereka telah sampai membawanya kelangit, mereka meminta agar pintu langit dibukakan untuknya. Maka dari setiap langit dia diiringi oleh para penjaganya sampai ke langit berikutnya. Demikianlah yang akan terjadi hingga dia sampai ke langit yang disana ada Allah. Maka Allah berfirman:</p>
<p>اكتبوا كتاب عبدي في عليين, و أعيدوه إلى الأرض, فإني منها خلقتهم, وفيها أعيدهم, و منها أخرجهم تارة أخرى<br />
“Catatlah oleh kalian bahwa hambaku (ini) berada di surga ‘illiyyin, dan (sekarang) kembalikanlah dia ke muka bumi. Sungguh darinya Aku telah menciptakan mereka, dan padanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya pula Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi”.</p>
<p>Kemudian nyawanya dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua orang malaikat kepadanya. Keduanya bertanya, siapa Rabbmu? Maka dia menjawab, Rabbku adalah Allah. Keduanya kembali bertanya, apa agamamu? Maka dia menjawab, agamaku adalah islam. Keduanya kembali bertanya, siapa orang yang telah diutus di tengah kalian ini? Maka dia menjawab, beliau adalah utusan Allah. Keduanya kembali bertanya, siapakah yang telah mengajarimu? Maka dia menjawab, aku membaca kitab Allah, beriman kepadanya dan membenarkannya.</p>
<p>Kemudian terdengarlah suara yang menyeru dari langit, “Hambaku ini telah benar. Bentangkanlah untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga”.<br />
Maka harum wangi surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya, dan harum wanginya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si mukmin bertanya kepadanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan.” Dia pun menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholih.” Lalu si mukmin berkata, “Wahai Rabbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku”.</p>
<p>Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>“Adapun bila seorang yang kafir meninggalkan alam dunia dan menghadap ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit sejumlah malaikat yang berwajah hitam legam. Mereka membawa sebuah kain kafan yang buruk dan kasar. Mereka pun duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya. Malaikat pencabut nyawa berkata,</p>
<p>“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah engkau kepada kemurkaan dan kemarahan Allah”.</p>
<p>Maka nyawanya tercerai berai di dalam jasadnya. Kemudian malaikat pencabut nyawa merenggut nyawanya seperti mencabut besi pemanggang daging dari bulu domba yang basah. Setelah malaikat pencabut nyawa mengambilnya, tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangannya dan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam legam tadi. Lalu mereka meletakkannya pada kain kafan (yang telah mereka bawa) itu. Sehingga keluarlah dari nyawanya seperti bau yang sangat busuk di atas muka bumi.<br />
Kemudian mereka naik bersamanya. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu akan bertanya, siapakah nyawa yang buruk ini? Mereka menjawab: “Ini adalah Fulan bin Fulan” dan disebutkan namanya yang paling terburuk ketika mereka memanggilnya di dunia.</p>
<p>Kemudian mereka membawanya naik sampai ke langit dunia dan dimintakan agar pintu langit di bukakan untuknya. Namun pintu langit tidak dibukakan untuknya”.</p>
<p>Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat yang berbunyi,</p>
<p>لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ</p>
<p>“Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta bisa masuk ke dalam lubang jarum.” (QS. Al-A’rof: 40)</p>
<p>Selanjutnya Allah Azza wa jalla berfirman,</p>
<p>“Catatlah oleh kalian bahwa ketetapannya berada di (neraka) Sijjiin, di bumi yang paling bawah”.</p>
<p>Setelah itu, nyawanya benar-benar dilemparkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat yang berbunyi,</p>
<p>“Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, Maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh”. (surat Al Hajj:ayat 31)</p>
<p>Demikianlah, nyawanya dikembalikan kedalam jasadnya. Maka dua orang malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya. Keduanya bertanya, “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab, “Hah.. hah..aku tidak tahu”. Keduanya kembali bertanya, “Siapa orang yang telah diutus ditengah kalian ini?” Dia menjawab, “Hah..hah..aku tidak tahu.” Kemudian terdengarlah suara yang menyeru dari langit, “Dia telah berdusta, bentangkanlah untuknya permadani dari api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka.” Sehingga hawa panas dan racun neraka pun menerpanya dan kuburnya dipersempit sampai tulang-tulang rusuknya saling bergeser. Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya, pakainnya, dan busuk baunya. Orang itu berkata, “Bergembiralah dengan segala yang akan memperburuk keadanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan.” Maka si kafir bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa keburukan.” Dia pun menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk.” Lalu si kafir berkata, “Wahai Rabbbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat”.</p>
<p>Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkamul Janaiz” (hal. 156-157) dan tahqiq beliau terhadap “Syarh Aqidah Thahawiyyah” (hal. 397-398).</p>
<p>Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…</p>
<p>Inilah keadaan seorang yang mukmin dan seorang yang kafir tatkala meninggalkan alam dunia dan masuk ke dalam alam akhirat yang dimulai dengan alam barzakh (alam kubur). Wallahu a’lam bi showab<br />
<b><br />
Khutbah yang kedua<br />
</b></p>
<p>Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . .</p>
<p>Ketika manusia meninggalkan alam dunia bukan berarti urusannya telah selesai. Dia akan mengalami alam kedua yaitu alam barzakh (alam kubur). Alam ini merupakan pintu masuk ke dalam alam akhirat yang sesungguhnya. Disebut dengan alam barzakh, karena makna barzakh adalah penutup atau perantara bagi dua perkara. Maka alam barzakh adalah alam di antara alam dunia dan alam akhirat. Di alam barzakh, manusia akan mengalami berbagai masalah yang menandakan bahwa urusannya belum selesai dengan semata-mata meninggalkan alam dunia. Saat melewati alam barzakh, pertama kali yang akan dihadapinya adalah pertanyaan dua malaikat di dalam kuburnya, sebagaimana di dalam hadits Al Baro` bin ’Azib yang terdahulu. Maka keberhasilannya di alam barzakh, mendapat kebaikan atau keburukan, akan tergantung dengan kemampuannya dalam menjawab pertanyaan dua malaikat itu.</p>
<p>Perlu diingat, bahwa di alam barzakh, jasad manusia tidak akan mampu untuk menjawabnya. Yang akan menjawabnya adalah ruh dan jiwa manusia yang telah diisi saat di alam dunia dengan kebaikan atau keburukan. Adapun seorang yang mukmin niscaya akan dimudahkan oleh Allah untuk bisa menjawab pertanyaan kubur yaitu tentang siapa Rabmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Itulah yang Allah maksudkan dengan firman-Nya:</p>
<p>يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ</p>
<p>“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)</p>
<p>Di dalam sebuah hadits yang shohih dari sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ</p>
<p>“Seorang hamba yang muslim bila ditanya di dalam kuburnya, niscaya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya muhammad adalah utusan Allah”.</p>
<p>Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ</p>
<p>“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa seorang yang mukmin akan mampu mengucapkan dua kalimat syahadat “La ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah”, baik ketika di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Tatkala seorang hamba menghadapi pertanyaan dua malaikat ini, maka dia akan menjawabnya sesuai dengan amal perbuatannya sewaktu di dunia. Oleh sebab itu, seorang hamba yang berbuat dosa-dosa besar dan tidak bertaubat darinya, sangat mungkin disiksa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kuburnya, walaupun dia seorang yang mukmin.</p>
<p>Telah datang sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:<br />
إِنّهُمَا لَيُعَذّبَانِ، وَمَا يُعَذّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، ، وَأَمّا الاَخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنّمِيمَةِ</p>
<p>”Orang-orang yang berada di dalam dua kubur ini, sungguh sedang disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa karena suatu masalah yang besar. Adapun salah satu dari keduanya, dahulu tidak mau menjaga diri dari air kencing. Sedangkan yang lain, dahulu biasa berjalan untuk mengadu domba”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…</p>
<p>Hadits ini menunjukkan kepada kita sekalian bahwa dua orang yang disiksa di dalam kuburnya itu dikarenakan dosa-dosa besar. Berarti yang disiksa oleh Allah di alam kubur bukan karena kekafiran saja tetapi juga karena dosa-dosa besar.<br />
Nasalullah salamah wal ‘afiah.</p>
<p>Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga kita dimudahkan untuk menjawab pertanyaan kubur dan diselamatkan dari siksanya.</p>
<p>Wallahu a’lam bis shawab.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=25&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/15/perjalanan-ruh-ketika-meninggalkan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obyektifitas Menvonis Menurut Ulama Ahlus Sunnah</title>
		<link>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/13/obyektifitas-menvonis-menurut-ulama-ahlus-sunnah/</link>
		<comments>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/13/obyektifitas-menvonis-menurut-ulama-ahlus-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 07:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alhujjah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/13/obyektifitas-menvonis-menurut-ulama-ahlus-sunnah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al-Maidani A. Peran Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah Kita telah mengetahui secara bersama bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah metodelogi agama yang benar sehingga setiap muslim yamg sejati tidak lagi membutuhkan kepada yang selainnya. Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah telah memperjuangkan manhaj ini dari masa ke masa. Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=18&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu&#8217;thi Al-Maidani<br />
</i><br />
A. Peran Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah</p>
<p>Kita telah mengetahui secara bersama bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah metodelogi agama yang benar sehingga setiap muslim yamg sejati tidak lagi membutuhkan kepada yang selainnya. Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah telah memperjuangkan manhaj ini dari masa ke masa. Yang demikian itu, bisa kita saksikan dengan membaca buku-buku mereka yang memuat bergudang-gudang ilmu guna menerangkan manhaj yang shahih ini. Bahkan tak jarang pula, kita menyaksikan mereka membantah ahlul bid’ah dengan keras di dalam karya-karya tulis yang mereka susun. Mereka melakukan semua itu demi menjaga kemurnian agama Allah dari beraneka ragam bid’ah yang selalu muncul pada setiap masa.<span id="more-18"></span></p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</p>
<p>“Yang selalu akan membawa ilmu ini pada setiap generasi belakang hari adalah orang-orang yang terpercaya. Mereka mengenyahkan darinya pengubahan orang-orang yang ekstrem, perbuatan dusta orang-orang yang bathil, dan pentakwilan orang-orang yang jahil.” (Hadits Hasan, lihat Ta’liq Al Hiththah oleh Syaikh Ali Hasan[1])</p>
<p>Ilmu yang dimaksud dalam hadits ini adalah agama itu sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tabi’in, Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah :</p>
<p>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Agama kalian.” (Muqaddimah Shahih Muslim 1/14)</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rohimahullah dalam kitabnya &#8220;Miftah Daarus Sa’adah&#8221; :</p>
<p>&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam telah mengabarkan bahwa ilmu yang beliau bawa akan selalu dipikul oleh orang-orang yang adil diantara generasi belakangan dari umatnya, sehingga ilmu beliau tidak tersia-siakan dan sirna[2].”</p>
<p>Demikian pula pendapat Al ‘Allamah Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya       &#8220;Ad Dinul Khalish&#8221; (3/261-263) ketika menjelaskan hadits ini :</p>
<p>“Yang dimaksud dengan ilmu dalam hadits ini adalah ilmu Al Kitab dan As Sunnah yang akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya diantara generasi yang datang sesudah Salaf . Mereka selalu meriwayatkan ilmu ini dan mengenyahkan darinya pengubahan orang-orang yang ekstrem (dalam beragama).”</p>
<p>Adapun &#8220;Tahriiful Ghaaliin&#8221; maksudnya adalah pengubahan orang-orang yang ekstrem (dalam beragama). Arti kata &#8220;Tahrif&#8221; adalah merubah Al Haq dengan kebathilan, baik secara lafadh maupun makna.</p>
<p>Adapun &#8220;Intihaalul Mubthilin&#8221; maksudnya adalah<br />
perbuatan dusta orang-orang yang bathil. Kata &#8220;Intihaal&#8221; berarti pengakuan seseorang terhadap dirinya dengan dusta, baik yang diungkapakan dalam bentuk syair maupun perkataan. Kata &#8220;Intihaal&#8221; adalah kiasan dari kedustaan.</p>
<p>Adapun &#8220;Ta`wiilul Jaahiliin&#8221; maksudnya adalah pentakwilan orang-orang jahil. Mereka melakukan takwil tanpa ilmu dan pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits. Akhirnya mereka memalingkan makna ayat dan hadits dari dhahirnya.</p>
<p>Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabi berkata:</p>
<p>“Maka peran orang-orang yang membawa ilmu agama ini, sebagai ganti para Rasul, tegak di atas tiga dasar :</p>
<p>1) menolak sikapekstrem (dalam beragama).</p>
<p>2) Mengenyahkan kebathilan.</p>
<p>3) Menyingkap kejahilan[3].”</p>
<p>Sedangkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata:</p>
<p>“Sesungguhnya membantah para pengikut hawa nafsu[4] adalah pintu yang mulia dan termasuk dari pintu-pintu jihad. Kenapa? Karena orang-orang yang melakukannya sekedudukan dengan orang-orang yang menjaga agama ini. Mereka melenyapkan darinya pengubahan orang-orang yang ekstrem (dalam beragama), perbuatan dusta orang-orang yang bathil, dan pentakwilan orang-orang yang jahil. Mereka telah mengibarkan bendera Al Haq dan menghunus pedang ilmu, agar Islam tetap putih bersih dan bersinar dengan cahaya risalah yang diturunkan kepada penutup para Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam[5].”</p>
<p>Dengan beberapa penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa membantah ahli bid&#8217;ah merupakan kebiasaan para ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah, agar agama ini tetap putih bersih sebagaimana aslinya. Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</p>
<p>“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan agama ini putih bersih. Malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyimpang darinya setelahku kecuali seorang yang binasa.” (HR. Ahmad, shahih)</p>
<p>Mereka melakukan semua itu dalam rangka memberi nasihat kepada umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam :</p>
<p>“Agama itu adalah nasihat (sebanyak tiga kali).” Lalu beliau bersabda : “Nasihat itu bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum Muslimin, dan keseluruhan mereka.” (HR. Muslim)</p>
<p>B. Sururiyah Dan Al Inshaf (obyektivitas dalam memvonis)</p>
<p>Sururiyah adalah sebuah pemahaman yang dinisbatkan kepada seorang mantan anggota ikhwanul muslimin yang bernama Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin. Pemahaman ini menggembar-gemborkan sikap adil dalam mengkritik buku-buku, personil-personil dan kelompok-kelompok Ahli Bid’ah. Mereka mewajibkan untuk menyebut kebaikan-kebaikan Ahli Bid’ah dalam mengkritik. Inilah yang mereka istilahkan dengan Al inshaf.</p>
<p>Pemahaman Al inshaf gaya sururiyyah ini telah banyak mempengaruhi para pemuda Salafiyyin. Akibatnya, mereka meninggalkan manhaj yang dilalui oleh para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah baik dulu maupun  sekarang dalam mengkritik ahli bid’ah. Cara bersikap mereka terhadap ahli bid’ah pun menjadi rancu. Yang lebih tragis lagi, mereka menyangka bahwa Al inshaf gaya sururiyah ini adalah manhaj yang benar. Sehingga mereka mengklaimnya sebagai manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah.</p>
<p>Pemahaman Al inshaf gaya sururiyah ini lambat laun menjadi mantap di dalam jiwa-jiwa mereka. Sikap Al Wala’ Wal Bara’ pada diri-diri mereka menjadi lemah. Semestinya mereka memberikan Al Wala’ (loyalitas) kepada Ahlus Sunnah yang membela dan menjaga agama ini dari berbagai pemikiran sesat ahli bid’ah. Mereka membantah dan mengkritik karya-karya tulis, personil-personil, dan kelompok-kelompok ahli bid’ah tanpa harus berbasa-basi menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Ini semuanya dalam rangka menasehati umat islam agar berhati-hati terhadap ahli bid’ah dan seluruh media yang mereka pakai untuk menyebarkan kebatilan.</p>
<p>Namun yang terjadi justru kebalikannya. Mereka memberikan Al Wala’ kepada ahli bid’ah. Ketika Ahlus Sunnah mengkritik ahli bid’ah tanpa menyebut kebaikan-kebaikannya, mereka pun beramai-ramai membelanya dengan meneriakkan semboyan Al inshaf yang telah mereka peralat dengan keliru. Yang lebih parah lagi, mereka mengecam Ahlus Sunnah yang mengkritik. Mereka menganggapnya sebagai orang-orang yang kotor, kasar, dan lancang mulutnya,  serta berbagai tuduhan lain yang mereka lontarkan kepada Ahlus Sunnah untuk membela ahli bid’ah. Mereka menganggap bahwa ahli bid’ah telah didzalimi oleh Ahlus Sunnah karena tidak disebutkan kebaikannya saat dikritik.</p>
<p>Sikap Bara’ (berlepas diri) yang mereka miliki demikian pula keadaannya. Seharusnya sikap ini, mereka berikan kepada ahli bid’ah yang telah merusak agama. Tapi apa yang terjadi? Mereka justru bara’ dari Ahlus Sunnah yang mereka anggap telah berbuat kedzaliman terhadap ahli bid’ah.</p>
<p>Diantara dampak negatif dari pemahaman Al inshaf versi sururiyah ini adalah kekaburan Al Haq di mata kebanyakan Ahlus Sunnah yang terpengaruh dengannya. Oleh karena itu, mereka tidak bisa membedakan antara manhaj yang haq dan yang bathil. Mereka menganggap sama seluruh manhaj-manhaj yang ada sekarang ini karena seluruhnya berada di bawah bendera Islam. Konon katanya, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga perlu adanya sikap tasamuh (toleransi) sesama manhaj.</p>
<p>Nah, ucapan seperti inilah yang sering diucapkan para sururiyin dengan perkataan mereka :</p>
<p>“Kita saling tolong-menolong pada perkara yang kita sepakati dan kita saling memaafkan pada perkara yang kita perselisihkan.”</p>
<p>Tentu saja kalimat ini adalah kalimat yang haq, akan tetapi yang dimaksudkan dengannya adalah kebathilan karena dengan kalimat ini mereka (para sururiyin) mengambil sikap untuk toleransi dengan berbagai manhaj yang ada sekarang ini.</p>
<p>Oleh sebab itu, dengan berbagai macam kejadian atau kenyataan seperti yang telah disebutkan di atas, perlu kiranya kita sebutkan beberapa buku yang ditulis oleh orang-orang yang telah terpengaruh oleh pemahaman al inshaf sururiyah ini agar para pemuda Salafiyyin menghindari buku-buku tersebut demi menjaga akidah dan manhaj mereka supaya tetap lurus di atas akidah dan manhaj yang benar seperti yang telah diajarkan para Salafus Shalih. Di antara karangan mereka (sururi) adalah :</p>
<p>Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah fi Taqwiim Ar Rijaal Wa Mu’allafaatihiim karya Ahmad Shuwayyan, Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah fin Naqdi Wal Hukmil Aakharin karya Ashshiny, Min Akhlaaq Ad Daa’iyah karya Salman Al ‘Audah, Dhawaabith Ra’iysah fi Taqwiin Al Jama’ah Al Islamiyah karya Zaid Al Zaid, Al I’tidal Liman Araada Takwiim Al Jamaah Warrijal karya Al Muqthiri, dan banyak lagi karangan-karangan yang lain[6].</p>
<p>C. Beberapa Perkataan Sururiyin Mengenai Al Inshaf Dan Bantahannya</p>
<p>Zaid Al Zaid di dalam kitabnya Dhawaabith Ra’iysah fi Taqwiin Al Jama’ah Al Islamiyah berkata (dengan perkataan yang rusak, red.) :</p>
<p>“Ketetapan yang kelima, adil di dalam mengkritik adalah sekaligus menyebutkan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka yang namanya adil (dalam mengkritik) menuntut disebutkannya kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan secara bersamaan ketika itu. Dan tidaklah termasuk al inshaf (berlaku adil dalam mengkritik) sedikit pun orang-orang yang mengkritik suatu jamaah dari jamaah-jamaah Islamiyah atau suatu umat dari umat-umat Islamiyah dengan hanya menyebutkan kesalahan-kesalahan, penyimpangan-penyimpangan, dan keburukan-keburukan (suatu jamaah atau suatu umat tertentu) saja. Sesungguhnya (kritikan) seperti ini melampaui batas al adl (keadilan) dan juga menyia-nyiakan kebenaran yang ada pada jamaah (atau umat) tersebut[7].”</p>
<p>Berkata (dengan perkataan yang rusak, red.) Salman Al Audah tentang al adl[8] : “Maka ketika kamu meneliti suatu kitab bukanlah termasuk al adl (keadilan) jika kamu hanya mengatakan, sesungguhnya (kitab ini) mengandung hadits-hadits dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu) &#8211;misalnya&#8211; (atau mengandung) pendapat-pendapat yang ganjil sehingga dengan demikian kamu hanya menyebutkan sisi kedhalimannya saja dan melupakan sisi yang lain yang ada dalam kitab tersebut yakni sisi yang mengandung pengarahan-pengarahan yang berfaidah atau pembahasan-pembahasan ilmiah. Sesungguhnya jika kamu hanya menyebutkan sebagian saja (dari isi suatu kitab) dan mengabaikan sebagian yang lain daripadanya, perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak amanah (yakni tidak menjaga amanah). Kebanyakan dari manusia semata-mata melihat satu kesalahan pada suatu kitab karena membawakan sebuah hadits yang dhaif atau mempunyai kesalahan pada suatu permasalahan. Setelah itu dia langsung meninggalkannya dan memberi peringatan kepada manusia agar meninggalkannya pula. Kalau kita lakukan sikap seperti ini kepada kitab-kitab Ahlul Ilmi maka tidak akan tersisa bagi kita satu kitab pun.”</p>
<p>Kemudian dia (Salman Al Audah) berkata kembali (dengan perkataan yang rusak, red.) pada halaman berikutnya[9] : “Sikap yang adil (al adl) adalah kita mengambil ini dan itu kemudian kita letakkan yang ini pada satu tangan timbangan dan yang lain pada tangan timbangan yang lain hingga jadilah timbangan itu lurus dan sama berat[10].”</p>
<p>Berkata pula tokoh mereka (sururi) yang lain, Ahmad Ash Shuwayyan : “Yang kelima, perimbangan antara perkara yang positif dan perkara yang negatif adalah apabila telah jelas bahwa manusia bagaimanapun kedudukannya mempunyai kebenaran dan kesalahan maka tidak boleh bagi kita membuang seluruh ijtihad-ijtihadnya. Bahkan kita melihat pendapatnya yang sesuai dengan kebenaran dan kita berpegang dengan pendapatnya kemudian kita berpaling dari berbagai macam kesalahannya. Maka perimbangan (Al Muwazanah) antara perkara yang positif dan perkara yang negatif seperti inilah yang dinamakan al adl (keadilan) dan al inshaf[11].”</p>
<p>Membaca beberapa nukilan di atas kita melihat apa yang dikatakan oleh para sururiyin tersebut seakan-akan merupakan suatu kebenaran sehingga banyak dari kalangan Salafiyyin (Ahlus Sunnah) terpengaruh dengannya. Padahal tidak demikian. Kalau kita lihat bantahan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap apa yang mereka katakan itu kita baru akan mengetahui betapa bahayanya apa yang mereka katakan dan alangkah salahnya pemahaman mereka itu.</p>
<p>Di antara ulama Ahlus Sunnah yang membantah perkataan mereka ialah Syaikh Abu Ibrahim bin Sulthan Al Adnani. Menanggapi perkataan Zaid Al Zaid, beliau berkata :</p>
<p>[ Atas perkataan seperti ini maka orang yang mencukupkan diri dengan hanya menyebutkan kejahatan-kejahatan seseorang, suatu kelompok atau kaset, dan lain-lain (di dalam mengkritik) adalah orang yang tidak adil bahkan berbuat dzalim di dalam menghakiminya. Perkataan seperti ini mengharuskan bahwa orang yang hanya menyebutkan kebaikan-kebaikan saja (di dalam menilai) juga termasuk orang yang dzalim dan ini jelas merupakan konsekuensi yang rusak. Sedangkan konsekuensi suatu perkataan apabila rusak menunjukkan rusaknya perkataan tersebut. Hal ini akan lebih jelas bila kita melihat firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :</p>
<p>Sungguh telah kafir orang yang mengatakan : “Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga … .” (QS. Al Maidah : 73)</p>
<p>Pada ayat ini Allah menyebutkan kejahatan-kejahatan (nashara) dan tidak menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Maka apakah hal ini bisa dikatakan keadilan atau kedhaliman?</p>
<p>Akan tetapi, memang sudah merupakan manhaj mereka untuk membikin indah (suatu pendapat). Akhirnya mereka juga memperindah (pendapatnya yang di atas) agar mereka dapat melaksanakan apa yang dikehendaki … dan seterusnya[12]. ]</p>
<p>Dalam membantah perkataan Salman Al Audah, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : “Al Adl (keadilan) lawan dari Al Juur (kedhaliman). Maka apabila didapati bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan pada suatu kitab kemudian seorang Muslim menyebutkan (kebid’ahan dan penyimpangan-penyimpangan tersebut) dalam rangka menasihati dan memberikan peringatan kepada kaum Muslimin (agar berhati-hati daripadanya), tidak bisa hal ini dikatakan termasuk daripada perbuatan dhalim sedikitpun. Permisalannya seperti seseorang yang mempunyai keburukan dan kebid’ahan kemudian kamu sebutkan apa yang dia punyai itu dalam rangka memberi nasihat. Maka tidak bisa penyebutan itu sebagai suatu kedhaliman atau perbuatan ghibah bahkan termasuk dari pintu nasihat dan ini adalah suatu perkara yang sudah diakui oleh para ulama Islam … . Sesungguhnya kedhaliman itu adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sedangkan penyebutan keburukan-keburukan dan kebid’ahan-kebid’ahan yang ada pada kitab-kitab dan orang-orang dalam rangka menasihati kaum Muslimin adalah perkara yang dianjurkan di dalam syariat. Ini dapat memberikan maslahat (kebaikan) dan menolak kerusakan-kerusakan. Seharusnya dia (Salman) mengatakan (pendapatnya) ini dalam berbuat adil terhadap nash-nash. Akan tetapi nampak bagiku dari perbuatan-perbuatannya kalau dia mengumumkan pemakaian sikap al adl seperti ini di dalam mengkritik orang-orang dan kitab-kitab tertentu. Memang sikap adil dianjurkan dan harus digunakan. Akan tetapi penyebutan keburukan-keburukan dan berbagai kebid’ahan untuk menasihati kaum Muslimin itu tidak harus bersamaan dengan disebutkannya kebaikan-kebaikan karena dengan demikian akan hilang tujuan menasihati. Dan orang yang dinasihati akan menjadi kabur pemahaman Al Haq (kebenaran) baginya. Kemudian juga tidak ada nash-nash yang berjalan di atasnya (di atas manhaj inshaf tadi) dan tidak pula ada pada amalan para Salafush Shalih.”</p>
<p>Selanjutnya Syaikh Rabi’ membantah perkataan Ahmad Shuwayyan dengan mengatakan :</p>
<p>[ Tidak ada perselisihan dalam permasalahan ini jika terhadap imam mujtahidin yang mereka berijtihad untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya baik secara bathin maupun dzahir. Dan mereka pada keadaan yang demikian berusaha mencari Al Haq dengan ijtihadnya sebagaimana Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada mereka. Maka mereka mendapatkan dua pahala jika mereka benar dan mendapatkan satu pahala jika salah dan telah lewat penjelasan tentang mereka. Akan tetapi pembicaraan kita adalah pada ahlul bid’ah, ahlul dhalal, dan ahlul jahl. Allah berfirman tentang mereka :</p>
<p>“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang membuat syariat (bid’ah) untuk mereka dalam agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura : 21)</p>
<p>Dan Allah juga berfirman :</p>
<p>Katakanlah : “Rabbmu hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)</p>
<p>Pembicaraan kita juga pada orang-orang yang berani berfatwa tanpa ilmu dan orang-orang yang membuat manhaj. Mereka meletakkan kaidah-kaidah dan membentuk ushul-ushul yang seluruhnya jauh dari manhaj Islam tanpa dalil-dalil dan keterangan-keterangan. (Pembicaraan) juga tertuju pada orang yang Allah firmankan tentang mereka.</p>
<p>“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu serta dusta, ini halal dan ini haram untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An Nahl : 116)</p>
<p>Demikian pula pada pengikut-pengikut mereka (orang-orang yang telah disebutkan di atas) yang mana Allah juga berfirman tentang orang yang semisal mereka :</p>
<p>“Mereka menjadikan orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah.” (QS. At Taubah : 31)</p>
<p>Pengikut mereka ini adalah orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai jawaban terhadap perkataan Adi bin Hatim ketika ia mengatakan : “Demi Allah, kami tidak pernah mengibadahi mereka (para alim dan rahib-rahib itu).” Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bukankah mereka menghalalkan yang haram kemudian kalian juga ikut menghalalkannya. Dan bukankah mereka mengharamkan yang halal kemudian kalian ikut mengharamkannya?” Adi menjawab : “Benar.” Nabi bersabda lagi : “Itulah namanya mengibadahi mereka.” (Hadits hasan riwayat Tirmidzi dan Baihaqi)</p>
<p>Kewajiban membedakan antara ulama mujtahidin dengan golongan-golongan manusia (seperti yang disebutkan di atas) itu sama dengan kewajiban membedakan antara orang yang berpegang dengan Al Haq, mengambil pendapat para ulama mujtahid yang sesuai dengan (Al Haq) yang Rasul datang dengannya dan menolak yang menyelisihinya dengan orang-orang yang tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah pendapatnya dari para ulama mujtahid tersebut, tidak menjauhkan diri dari mensucikan ahlul bid’ah dan ahlul jahl, mengambil pendapat-pendapat mereka yang bathil, manhaj, dan dasar-dasar mereka yang rusak. Aku tidak melihat Al Akh Suwayyan membedakan jenis-jenis manusia ini. (Sebenarnya) wajib atasnya membeda-bedakan dengan jelas dan mempunyai perhatian untuk menjelaskan bahayanya bid’ah serta berhati-hati daripadanya dan ahlul bid’ah.</p>
<p>Uslub seperti ini --yaitu lemahnya perhatian terhadap perkara bid’ah-- telah menjadi kesenangan bagi kebanyakan para da’i dan pembaharu. Bahkan kamu akan mendapati para dai tersebut membela ahlul bid’ah, memuji mereka, meninggikan sebutan mereka, dan bahkan juga menganggap sebagian tokoh ahlul bid’ah sebagai pembaharu atau imam-imam tajdid. Di sana terdapat buku-buku (yang dikarang para dai tersebut) yang ditulis untuk membela jenis-jenis manusia (yang telah disebutkan di atas). Tidak ada pada mereka (para dai) semangat untuk berpegang kepada Al Haq dan tidak ada pula kesiapan untuk membedakan Al Haq dan Al Bathil. Lisan mereka mengatakan :</p>
<p>“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka[13].” (QS. Az Zukhruf : 22) ]</p>
<p>D. Beberapa Fatwa Para Ulama Mengenai Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Dalam Mengkritik Seseorang, Kitab, dan Kelompok-Kelompok</p>
<p>Sebenarnya Ahlus Sunnah wal Jamaah mempunyai manhaj di dalam mengkritik. Manhaj itu telah diwariskan kepada kita oleh para ulama yang dulu maupun sekarang. Salah satu contoh dari mereka &#8211;ulama mutaqaddimin (terdahulu)&#8211; seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang tidak diragukan lagi pengorbanan beliau untuk Islam dan sikapnya yang tegas dan keras dalam mengkritik ahlul bid’ah. Beliau tidak pernah mengharuskan bagi dirinya ataupun orang lain untuk menyebut kebaikan-kebaikan bersamaan penyebutan keburukan-keburukan dalam mengkritik. Beliau juga tidak pernah menganggap orang yang melakukan hal yang demikian dalam mengkritik sebagai orang yang dhalim, tidak adil, dan tidak bersikap inshaf. Ini karena memang sikap adil dan inshaf dengan cara mengharuskan untuk menyebut kebaikan-kebaikan bersamaan dengan keburukan-keburukan dalam mengkritik itu tidak pernah diajarkan oleh para Salafush Shalih. Bahkan kalau kita lihat kitab karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah diantaranya Majmu’ Fatawa seringkali beliau dalam kitab tersebut mengkritik ahlul bid’ah dari berbagai macam golongan dengan tidak menyebut kebaikan yang ada pada mereka.</p>
<p>Demikian pula yang dilakukan oleh seorang ulama besar yang bernama Hasan Al Bashri. Beliau pernah berkata : “Apakah kamu benci untuk menyebutkan (keburukan-keburukan) orang yang jahat? Sebutkanlah (keburukan-keburukan) itu oleh kamu sekalian agar manusia berhati-hati daripadanya.” Dan telah diriwayatkan pula yang seperti ini secara marfu’. (Lihat Tafsir Suratun Nuur karangan Ibnu Taimiyyah tahqiq Ali Hasan Ali Abdul Hamid)</p>
<p>Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab berbicara pula di dalam Syarah Ilalut Turmudzi 1/50, berkata Ibnu Abi Dunya, menceritakan kepada kami Abu Shalih Al Mawardzi, aku mendengar Rafi’ bin Asyras berkata : “Pernah ada orang yang mengatakan termasuk daripada hukuman pendusta adalah tidak diterima kejujurannya dan aku katakan termasuk daripada hukuman orang yang fasik yang mubtadi’ adalah jangan disebutkan kebaikan-kebaikannya.”</p>
<p>Al Muhaqqiq berkata, Al Kankauhi berkata dalam kitab Al Kawkabud Durri 1/347 : “ … maka ketahuilah bahwa boleh bahkan wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada manusia aibnya (ahlul bid’ah) dan mencegah mereka dari mengambil ilmu darinya (ahlul bid’ah). Ini adalah madzhab Salaf dan hukum-hukum mereka serta muamalah mereka terhadap kitab-kitab dan pengarangnya serta ahlul bida’. Sebagaimana bisa engkau lihat pada perkataan Ibnu Taimiyyah, Imam Al Baghawi, Imam As Syathibi, Ibnu Abdil Barr dari Imam Malik dan murid-muridnya, Imam Khatib Al Baghdadi, Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad dan para Salaf seluruhnya[14]. Dan sikap ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mutaqadimin yang seperti ini dijelaskan dengan panjang lebar oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dalam kitabnya Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.</p>
<p>Di bawah ini akan disebutkan beberapa fatwa dari para masyaikh ketika ditanya tentang manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah di dalam mengkritik.</p>
<p>Soal 1 : Jika dinisbatkan dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah di dalam mengkritik ahlul bid’ah dan kitab-kitab mereka apakah termasuk wajib menyebut kebaikan ahlul bid’ah bersamaan dengan kejahatan-kejahatan mereka? Atau cukup hanya dengan menyebut kejahatan-kejahatan mereka saja?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Suatu hal yang ma’ruf di dalam perkataan Ahlul Ilmi bahwa mengkritik keburukan fungsinya adalah untuk memberi peringatan dan menerangkan kesalahan-kesalahan ahlul bid’ah yang mereka bersalah padanya. Juga untuk memberi peringatan agar berhati-hati. Adapun kebaikan-kebaikan (mereka) sudah ma’ruf dan kebaikan-kebaikan itu bisa diterima (walaupun tidak disebutkan). Akan tetapi maksud (dari menyebut kesalahan-kesalahan mereka saja) adalah untuk memberi peringatan agar berhati-hati dari kesalahan mereka seperti menyebutkan Jahmiyah (demikian) … Mu’tazilah … Rafidhah dan firqah-firqah lain yang sejenis. Maka jika sangat dibutuhkan untuk menerangkan kebenaran apa yang ada pada mereka boleh saja diterangkan dan jika ada yang bertanya kebenaran apa yang ada pada mereka (ahlul bid’ah)? Pada perkara apa mereka mencocoki Ahlus Sunnah? Apabila yang ditanya mengetahui hal itu dia (bisa) menerangkannya. Akan tetapi tujuan yang paling terbesar dan terpenting menerangkan kebathilan-kebathilan yang ada pada mereka agar orang yang bertanya itu berhati-hati dan hatinya tidak cenderung kepada mereka.</p>
<p>Kemudian ada pula yang bertanya kepada Syaikh Bin Bazz : “Bagaimana jika ada orang yang mewajibkan al muwazanah (perseimbangan) yakni jika kamu mengkritik seorang mubtadi’ (ahlul bid’ah) karena bid’ahnya agar kamu dapat memberi peringatan kepada manusia supaya berhati-hati darinya wajib pula kamu menyebutkan kebaikan-kebaikannya hingga kamu tidak mendzalimi dia?”</p>
<p>Maka Syaikh Bin Bazz menjawab : “Tidak demikian keadaannya. Hal yang demikian itu tidak harus dilakukan karena apabila kamu membaca kitab-kitab Ahlus Sunnah (yang menyebutkan keburukan ahlul bid’ah saja) maka kamu akan dapati tujuannya adalah memberi peringatan agar berhati-hati (dari ahlul bid’ah). Coba baca kitab-kitab karya Bukhari (seperti) kitab Khalqu Afalil Ibaad, Kitabul Adab yang ada di dalam Shahih-nya. Demikian juga kitab At Tauhid karya Ibnu Khuzaimah kemudian kitab Rad Utsman bin Said Ad Darimi ala ahlil bida’ dan kitab-kitab lainnya. Mereka (para ulama) mengarangnya dalam rangka memberi peringatan agar berhati-hati dari kebathilan-kebathilan ahlul bid’ah. Lalu apa maksudnya menyebutkan kebaikan-kebaikan ahlul bid’ah itu sedangkan tujuan (mengkritik ahlul bid’ah) sudah jelas untuk berhati-hati dari kebathilan-kebathilan mereka? Di samping itu kebaikan-kebaikan ahlul bid’ah tidak ada nilainya kalau diukur dengan orang-orang yang menjadi kafir diakibatkan oleh kebid’ahannya. Yang ini dapat mengkafirkan dia hingga batallah kebaikan-kebaikannya itu. Dan jika kebid’ahannya tidak sampai mengkafirkannya maka dia berada dalam bahaya. Oleh karena itu tujuan dalam mengkritik adalah menerangkan kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang kita wajib berhati-hati darinya.” (Dikutip dari kaset rekaman salah satu pelajaran Syaikh Bin Bazz setelah shalat Fajar di Thaif tahun 1413 H)</p>
<p>Soal 2 : Apakah disyaratkan di dalam manhaj Salaf, al muwazanah (keseimbangan) antara kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan dalam penyebutan ketika mengkritik ahlul bid’ah?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>(Syaikh Abdul Aziz Muhammad Salman hafidhahullah) : “Ketahuilah, semoga Allah membimbing kita dan kamu serta seluruh kaum Muslimin bahwa tidak pernah didapatkan atsar yang datang dari salah seorang dari kalangan Salafush Shalih baik itu para shahabat maupun tabi’in (orang yang mengikuti mereka dengan ihsan), yang mengagungkan seorang ahlul bid’ah pun atau orang-orang yang berwala’ kepada ahlul bid’ah atau mengagungkan orang yang mengajak berwala’ kepada ahlul bid’ah. Ahlul bid’ah itu orang yang berpenyakit hatinya. Orang yang bercampur dengan mereka atau berhubungan dengan mereka dikhawatirkan akan terkena penyakit (bid’ah) mereka yang berbahaya ini karena orang sakit itu akan menjangkiti orang yang sehat dan tidak sebaliknya. Maka berhati-hatilah dari seluruh ahlul bid’ah. Dan termasuk ahlul bid’ah yang wajib dijauhi dan ditinggalkan adalah Al Jahmiyah, Rafidlah, Al Mu’tazilah, Al Maturidiyyah, Al Khawarij, Shufiyah, Al Asy’ariyyah dan siapa saja yang berjalan di atas jalan mereka dari golongan yang menyimpang dari jalan para Salaf. Maka sepantasnya bagi seorang Muslim untuk berhati-hati terhadap ahlul bid’ah dan juga memberi peringatan (kepada orang lain) agar berhati-hati dari mereka.”</p>
<p>Di samping permasalahan sekitar jamaah-jamaah (yang ada), pertanyaan yang senada pun pernah pula ditujukan kepada Syaikh Shalih Fauzan seperti yang dikutip di bawah ini :</p>
<p>Soal 3 : Apakah Anda memberi peringatan agar berhati-hati dari (keburukan-keburukan) mereka tanpa Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka? Atau akan Anda sebutkan kebaikan-kebaikan mereka bersamaan dengan keburukan-keburukan mereka?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Apabila engkau sebutkan kebaikan mereka berarti engkau menyeru untuk mengikuti mereka. Jangan kamu sebutkan kebaikan mereka!!! Sebutkanlah kesalahan-kesalahan mereka saja karena engkau tidak ditugaskan untuk mempelajari perbuatan (baik) mereka dan mendukungnya. Tetapi engkau ditugaskan menjelaskan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat dan orang lain dapat berhati-hati dengannya. Adapun jika engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka maka mereka akan berkata : “Semoga Allah membalasimu dengan kabaikan, inilah yang kami cari … .” (Dikutip dari kaset rekaman pelajaran ke-3 Kitab At Tauhid oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di Thaif tahun 1413 H)[15]</p>
<p>E. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Dalam Mengkritik</p>
<p>Kalau kita memperhatikan Al Qur’an kita akan mendapati bahwa Allah memuji kaum Mukminin tanpa menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka agar manusia tergerak hatinya untuk mencontoh mereka dan berjalan di atas jalan mereka. Sebaliknya, Allah mencela orang-orang kafir dan munafiq dengan menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dalam rangka inshaf seperti Allah menyebutkan kekufuran, kefasikan, kemunafikan yang ada pada mereka dan mensifatkan mereka dengan ketulian, kebisuan, kebutaan, kesesatan, kebodohan, dan seterusnya. Allah tidak menyebutkan kebaikan yang ada pada mereka karena memang tidak pantas untuk disebutkan walaupun mereka juga memiliki kebaikan-kebaikan. Maka kalau dikatakan bahwa orang yang mengkritik dengan menyebutkan kesalahan saja tanpa menyebutkan kebaikan itu tidak berlaku adil dan tidak inshaf apakah akan kita juga mengatakan bahwa Allah tidak adil dan tidak inshaf? Maha Suci Allah dari perkataan seperti ini.</p>
<p>Dan kalau kita perhatikan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, beliau sangat keras memberi peringatan agar berhati-hati dari ahlul bid’ah (pengikut hawa nafsu). Beliau tidak memandang kebaikan-kebaikan yang ada pada mereka karena kesalahan-kesalahan mereka lebih berbahaya dari maslahat yang dapat diambil dari kebaikan-kebaikannya. Dalam sebuah hadits disebutkan :</p>
<p>Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu &#8216;anhu berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam membaca ayat (yang artinya) : “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat (ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah), itulah Ummul Kitab (Ummul Qur’an) dan yang lain mutasyabihat (yang samar-samar belum dipahami maksudnya atau hanya Allah saja yang faham maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : ‘Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat. Semuanya itu dari Rabb kami.’ Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 7)</p>
<p>Aisyah berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : “Apabila engkau lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat maka mereka itulah orang yang telah Allah sebutkan (pada ayat di atas) dan berhati-hatilah kamu sekalian terhadap mereka.” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran tentang manhaj yang shahih di dalam mengkritik ahlul bid’ah, yakni memberi peringatan agar berhati-hati dari kebathilan-kebathilan mereka tanpa menyebut kebaikan-kebaikan mereka karena Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam memerintahkan kepada kita agar berhati-hati dari orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat tanpa beliau menoleh kepada kebaikan-kebaikan yang ada pada mereka. Beliau tidak menyatakan Ambillah faidah dari kebaikan-kebaikan mereka dan sebutlah kebaikan-kebaikan mereka itu.</p>
<p>Walaupun jelas mereka juga mempunyai kebaikan-kebaikan tapi kebathilannya lebih besar daripada kebaikannya. Jadi sangat menyedihkan sekali kalau sekarang kita dapati banyak dari orang-orang yang mengaku menisbahkan dirinya pada manhaj Salaf memberikan wala’-nya kepada ahlul bid’ah, membela manhaj mereka dan kitab-kitab mereka, dan memberi peringatan agar berhati-hati terhadap Ahlul Haq dan Ahlus Sunnah yang keras terhadap ahlul bid’ah. Semoga Allah menunjuki mereka!</p>
<p>Sikap ini pun telah ditunjukkan pula oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam yang memperingatkan agar berhati-hati dari orang-orang khawarij dimana beliau telah menyebutkan tanda-tandanya kepada para shahabat dengan sabdanya : “Bacaan (Al Qur’an)-mu tidak bisa mengimbangi bacaan (Al Qur’an) mereka sedikitpun. Shalat kamu tidak bisa mengimbangi shalat mereka sedikitpun. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an itu dalil bagi mereka padahal hujjah atas mereka. Makna shalat mereka tidak melewati tenggorokan mereka dan mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.” Dalam riwayat lain : “Sesungguhnya jika aku mendapati mereka, aku akan bunuh mereka seperti membunuh kaum Tsamud.” (HR. Muslim)</p>
<p>Di sini kita dapati bahwa walaupun (orang-orang khawarij) itu hamba-hamba yang ikhlas di dalam membaca Al Qur’an, shalat, dan puasa mereka tidak dapat diimbangi oleh para shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam ternyata justru kebaikan-kebaikan mereka itu menjadi celaan dan tanda kesesatan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dan kalau Rasulullah mendapatkan mereka beliau akan membunuh mereka.</p>
<p>Inilah manhaj yang diajarkan Rasulullah kepada kita di dalam mentahdzir (memberi peringatan agar berhati-hati) dari ahlul bid’ah. Beliau tidak menoleh sedikitpun kepada kebaikan mereka. Kebaikan mereka bahkan bisa menjadi tanda kesesatan mereka sebagaimana yang terjadi pada orang-orang khawarij tersebut. Sikap seperti inilah yang telah diwariskan para ulama Salaf kepada kita.</p>
<p>Di antara sikap ulama Salaf terhadap ahlul bid’ah dapat dilihat pada pernyataan-pernyataan mereka berikut ini :</p>
<p>Ibnu Umar berkata tentang ahlul qadar : “Kabarkan kepada mereka, aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri daripadaku.”</p>
<p>Abu Qilabah berkata : “Jangan kamu bermajelis bersama ashhabul ahwa (pengikut hawa nafsu).” Atau dia berkata : “Bersama ashhabul khushumat (orang yang suka berbantah-bantahan) karena aku merasa khawatir kalau mereka dapat menenggelamkanmu dalam kesesatan mereka dan membuat samar kepadamu perkara yang sudah kamu ketahui.”</p>
<p>Seorang ahlul bid’ah berkata kepada Ayub As Sikhtiyaani : “Ya Abu Bakr, aku hendak bertanya kepadamu tentang satu kalimat!” Maka Ayub berpaling daripadanya dan mengatakan : “Tidak!!! (Walaupun) setengah kalimat[16].”</p>
<p>Demikianlah telah kita lihat bagaimana sikap para shahabat, tabi’in, dan para Imam Islam terhadap ahlul bid’ah. Mereka keras terhadap ahlul bid’ah tanpa menoleh sedikitpun kepada kebaikan-kebaikan mereka. Hal ini menunjukkan kesungguh-sungguhan mereka terhadap tujuan-tujuan Islam karena adanya kaidah yang berbunyi :</p>
<p>“Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan[17].”</p>
<p>Maka dengan adanya keterangan-keterangan di atas jelaslah sudah bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam mengkritik ahlul bid’ah adalah dengan menjelaskan kebathilan-kebathilan mereka tanpa menyebut kebaikan-kebaikan mereka agar tidak kabur makna nasihat. Sedang mengatakan yang bathil adalah bathil itu merupakan kewajiban sekaligus keadilan meskipun kepada karib kerabat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam surat Al An’am ayat 152 yang artinya :</p>
<p>“Dan apabila kamu berkata maka berlaku adillah walaupun kepada karib kerabat.”</p>
<p>Para ulama menafsirkan :</p>
<p>Yaitu katakanlah yang haq. (Lihat Tafsir Ath Thabari 5/395, Aisarut Tafasir 2/141 karya Abu Bakar Al Jazairi, Ad Durrul Mantsur 3/385 karya As Suyuthi, dan Fathul Majid halaman 36)</p>
<p>Ini dalam rangka untuk menasihati umat agar berhati-hati dari mereka dan kebathilan mereka. Manhaj ini adalah manhaj yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, para shahabat, tabi’in, dan para Imam-Imam Islam. Dan perlu ditegaskan lagi bahwa al adl (keadilan) atau al inshaf yang benar dalam mengkritik adalah berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dimana manhaj yang haq ini berbeda dengan manhaj sururiyah.</p>
<p>Akhirul kalam, kita berharap kepada Allah agar Allah menetapkan hati kita semua di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan kita berharap agar Dia tetap menjaga kita dari berbagai macam penyimpangan, di antaranya penyimpangan yang dilakukan oleh paham sururiyah ini. Kita juga berharap kepada Allah semoga Dia menunjuki para pemuda Salafiyyin yang terjerumus ke dalam pemahaman sururiyah dan ke dalam pemahaman-pemahaman bid’ah yang lain agar kembali kepada manhaj Salaf, manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengan demikian berkibarlah bendera-bendera Sunnah dan hancurlah bendera-bendera bid’ah. Amiin Ya Rabbil Alamiin, Wallahu ‘Alam Bish Shawab.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>[1] Lihat ta&#8217;liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Kitab Al Hithah fi Dzikir Sihhatis Sittah karya Siddiq Hasan Khan rahimahullah ta&#8217;ala.</p>
<p>[2] Miftah Darus Sa&#8217;adah 1/163, tahqiq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.</p>
<p>[3] Lihat At Tashfiyyah wat Tarbiyyah karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid halaman 25 cetakan Daarut Tauhid.</p>
<p>[4] Termasuk di dalamnya ahlul bid&#8217;ah.</p>
<p>[5] Dikutipkan dari kata sambutan Syaikh Salim Al Hilaly terhadap kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdi Rijal wal Kutub wat Thawaaif karya Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al Madkhali halaman 11.</p>
<p>[6] Quthbiyyah halaman 19, karangan Abi Ibrahim bin Sulthan Al Adnaani.</p>
<p>[7] Pemahaman seperti ini juga disebutkan di dalam kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Taqwiimir Rijal wa Muallafaathin karya Ahmad Suwayyan, Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fin Naqdi wal Hukum alal Akharim karya Ash Shini halaman 27 dan Qawaaaidil Itidal karya Al Maqthiri halaman 33.</p>
<p>[8] Lihat kitab Min Akhlaaqid Da&#8217;iyah karya Salman Al Audah halaman 40.</p>
<p>[9] Lihat kitab yang sama halaman 47.</p>
<p>[10] Maksudnya kita mengambil seluruh isi kitab yang baik dan yang buruk kemudian yang baik kita letakkan pada suatu anak timbangan dan yang buruk pada anak timbangan yang lain maka timbangan akan sama berat. Jadi kalau kita mengkritik haruslah menyebutkan kebaikan dan keburukan dan kalau tidak maka tidak bisa dikatakan adil. Wallahu a&#8217;lam bish shawab.</p>
<p>[11] Lihat Kitab Manhaj Ahlus Sunnah wl Jamaah fi Taqwiimir Rijal wa Muallafaathin halaman 27. Di sini kita cukupkan hanya beberapa nukilan saja dari perkataan-perkataan mereka (sururiyin) sebagai kesimpulan dari perkataan-perkataan yang lain.</p>
<p>[12] Lihat Al Quthbiyyah halaman 30-31.</p>
<p>[13] Lihat Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaaif halaman 45-48.</p>
<p>[14] Lihat Kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal halaman 127-149.</p>
<p>[15] Fatwa-fatwa ini dikutip dari muqaddimah Kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal halaman 8-10.</p>
<p>[16] Lihat Syarhus Sunnah karangan Imam Al Baghawi 1/227.</p>
<p>[17] Keterangan yang lebih jelas tentang bab ini lihat Kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal halaman 23-32.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alhujjah.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alhujjah.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alhujjah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alhujjah.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alhujjah.wordpress.com&amp;blog=2508422&amp;post=18&amp;subd=alhujjah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alhujjah.wordpress.com/2008/01/13/obyektifitas-menvonis-menurut-ulama-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a46844078bd1ec7785d7e52d1d9a42c8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alhujjah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
