Tokoh Penyesat Umat

Agustus 26, 2008 pukul 9:12 pm | Ditulis dalam Manhaj | 31 Komentar

oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits:

(يَتَقَارَبُ الزّمَانُ، وَيَنْقُصُ العلم، وَيُلْقَىَ الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ). قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أيُّمَا هُوَ؟ قَالَ: (الْقَتْلُ الْقَتْلُ).

“Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau menjawab: “pembunuhan demi pembunuhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)
Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekecauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas. Di zaman ini, ilmu telah sedemikian berkurang, sehingga sangat langka untuk kita temui di tengah masyarakat muslimin, seorang yang bisa disebut sebagai ulama. Kondisi ini semakin diperparah dengan kemunculan berbagai fitnah dan kekacauan di tengah-tengah mereka.

Termasuk yang perlu kita waspadai di masa ini dari sekian fitnah dan keributan yang terjadi adalah para tokoh penyesat umat.

Di dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي َاْلأَئِمَةَ الْمُضِلِّينَ

“Hanya saja yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin (baca: tokoh) yang menyesatkan.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al Imam Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Al Albani rahimahullah dalam As-Shahihah 4/110)
Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan kata ‘hanya saja’ menunjukkan bahwa kekhawatiran beliau terhadap para pemimpin (baca:tokoh) yang menyesatkan sedemikian kuat. Karena mereka adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka sangat mampu untuk menyesat umat ini dari jalan Allah.
Allah berfirman mengenai orang-orang yang binasa:

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

“Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta`ati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Al-Ahzab: 67)
Maka kita perlu berhati-hati dari bahaya laten para tokoh yang menyesatkan. Mereka memiliki lisan yang mampu untuk menyesatkan umat dengan mengolah kata dan bersilat lidah. Demikianlah keadaan mereka.
Maka ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Ziyad bin Fudhail:
“Apa yang dapat menghancurkan Islam?” ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yang menghancurkan Islam adalah ketergelinciran seorang yang ‘alim, dan seorang munafik yang berdebat dengan menggunakan al-kitab.”
Ini adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka akan menyesatkan kaum muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menggunakan dalil-dalil syar’i namun bukan pada tempatnya. Demi Allah, pada masa ini, masyarakat kita dikepung oleh tipikal-tipikal pemimpin maupun tokoh yang seperti itu. Menyeruak di sekitar mereka, para ulama su` (jahat) yang dengan segala kelihain dan kelicikan, menyesatkan umat dengan berbagai syubhat dan kerancuan pemikiran. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mewaspadai suasana genting ini, dengan mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para ulama yang mengamalkan dan memperjuangkan agama Allah dengan segala yang mereka miliki. Inilah satu-satunya penanganan yang paling efektif dalam menanggulangi gejolak fitnah yang sedahsyat itu.
Berapa banyak orang yang menyuarakan kebenaran, namun sedikit diantara mereka yang bisa menunjukkan bahwa yang benar itu adalah benar, dan dia benar-benar di atas yang benar . Oleh sebab itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.”
Para pemimpin atau tokoh penyesat umat lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada musuh-musuh Allah yang menyerang dari luar lingkup kaum muslimin. Apakah mereka dari kalangan Yahudi maupun Nashara. Kalau mereka dari kalangan orang-orang yang kafir, tentunya kebanyakan kaum muslimin waspada terhadap berbagai makar mereka. Namun bagaimana dengan musuh dalam selimut yang berbaju sama, berkopiah sama, dan berpenampilan sama seperti kaum muslimin, bahkan beramal pada sebagian amalan, sama seperti kaum muslimin. Mereka shalat seperti kaum muslimin, dan berbicara dengan lisan/bahasa kaum muslimin. Akan tetapi mereka adalah para penyeru kepada neraka jahannam.
Di dalam hadits Hudzaifah bin Al Yamaan radhiyallahu ’anhu disebutkan:

(نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا). قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ: (هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا).

“Ya, para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa yang memehuhi panggilan mereka, mereka akan mencampakkannya ke dalam neraka jahanam itu.” Aku bertanya: “wahai Rasulullah! Sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka dari jenis kita dan berbicara dengan lisan-lisan (bahasa-bahasa) kita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Inilah bahaya laten yang sangat kejam dalam membinasakan kaum muslimin . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.” (Al-An’am: 119)

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Tetapi orang-orang yang dzalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (Ar-Rum: 29)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari kejahatan para tokoh penyesat umat. Wallahu a’lam bish shawab
***

31 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Assalamu’alaikum,

    Jazakallahu khairan.

    • Subhanallah sangat langka ustadz yang berani mengungkapkan hal ini.

      Mudah2an ana tidak termasuk orang2 yang disesatkan oleh tokoh2 penyesat tersebut.

      Syukron ya Ustadz Abdul Mu’thi

  2. Assalamu’alaikum,

    Alangkah baiknya bila anda pertama kali melihat ke dalam diri sendiri sebelum melihat ke dalam diri orang lain. Jangan-jangan, nasehat anda malah ibarat kata pepatah: “Maling teriak maling!”


    Jawab:
    Wa’alaikumussalam,

    terimakasih atas masukannya, semoga bermanfaat bagi saya dan anda serta seluruh kaum muslimin.

    • Bismillahirrahmanirrahiim
      Jangan langsung kebakaran jenggot Sekedar Nasehat.
      Ingat!
      Nasihat dari sesama muslim kepada muslim yg lainnya adalah bukti rasa cinta sesama muslim!
      Bukan ingin menjatuhkan dengan hawa nafsu!
      Antum harus bisa membedakan antar nasihat dan menjatuhkan sesama muslim.

  3. salam
    trimakasih…

  4. Jazaakumullaahu khayran wa baarakallaahu fiikum. Semoga Allaah, Al-Haadi, memberi petunjuk kepada para tokoh dan pemimpin kita untuk senantiasa berjalan di atas al-haq.

  5. Assalamu’alaikum,
    sukron, karena ana masih awam… tulisan ini sangat bermanfaat bagi ana.

  6. Kami beritahukan kembali kepada para pengunjung blog ini bahwa kami tidak bisa menampilkan komentar-komentar dari pengunjung yang memiliki logo gambar makhluq hidup. Silahkan untuk membaca kembali bagian profil dari bolg ini sekedar untuk mengetahui alasan kami. Dengan ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wabillahit taufiq

  7. Assalaamu’alaikum

    Baarokallaahufiika ya ustadz
    Melihat kondisi ilmu diakhir zaman ini, patut bersyukurlah thullaabul ‘ilmi yang Allah beri hidayah & taufiq mengikuti majlis2 ilmu syar’i sehingga terhindar dari perkara2 haram maupun syubhat yang kian hari makin banyak.
    uhibbuka fillah

    Jawab:
    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Ahabbakallaah, alladzii ahbabtanii fiih

  8. barakallahu fikum

  9. Jazaakallahu, paling tidak anda telah mengingatkan

  10. -“Alangkah baiknya bila anda pertama kali melihat ke dalam diri sendiri sebelum melihat ke dalam diri orang lain. Jangan-jangan, nasehat anda malah ibarat kata pepatah: “Maling teriak maling!”-

    masyaAllah, agama itu nasehat, klo emg kondisi yg demikian kapan seseorang dapat menasehati saudaranya.

    bukankah dalam Al-Qur’an, yg menyatakan ciri2 org yang tidak berada dalam kerugian diantaranya:
    “saling menasehati dalam al-haq” (QS. Al-‘Ashr:3)

    ana blm pernah mendengar perkataan seorang tholabul ‘ilmu yg apabila disampaikan suatu nasehat, mereka berusaha menolak dengan dalih “hendaknya kalian koreksi diri sebelum mengoreksi orang lain”.

    Dan ingatlah ciri2 kesombongan, yaitu salah satu diantaranya adalah “menolak kebenaran”

    Wallahu a’lam

  11. Abdul Mu’thi berkata:
    “Mereka sangat mampu untuk menyesat umat ini dari jalan Allah.”

    Komentar saya:
    Omongan ini keliru, tidak ada siapapun yang bisa atau mampu menyesatkan orang lain atau pun memberi hidayah, kecuali Allah ta’alaa. bahkan Iblis pun sebagai tokoh penyesat, mengatakan tidak mampu melakukan itu, melainkan hanya mengajak dan mengajak. Tolong betulkan omongan anda itu, sebab omongan ini bergesekan dengan tauhid, apakah tauhid anda benar atau tidak…


    Jawab:
    Para ulama membagi kemampuan kepada dua bagian. Yang pertama, yaitu kemampuan yang berupa kuasa mutlak yang merupakan hak tunggal Allah dan tidak dimiliki oleh siapapun dari kalangan makhluq. Dengan kemahakuasaan ini, Allah mengatur segalanya. Yang kedua, kemampuan yang merupakan pemberiaan Allah kepada segenap makhluqnya sebagai kelengkapan fasilitas dalam kehidupan ini. Kedua-duanya tentu saling terpaut erat tak terpisahkan. Jikalau Allah tidak memberi kemampuan jenis kedua kepada para makhluqnya, niscaya alam ini tak dipenuhi berbagai sesak aktivitas kesibukan dengan berbagai bentuk, corak, dan ragamnya, apakah dalam urusan dunia maupun agama, dalam perkara yang baik ataupun buruk. Hanya aliran sesat dari kalangan Jabriyah yang menolak kemampuan jenis kedua ini.
    Penjelasan diatas sebenarnya tampak demikian gamblang bila kita memahami nash-nash Alquran dan Assunnah dengan baik dan cermat. Tapi saya kira bukan disini tempat memaparkannya dengan panjang lebar.
    Kita kembali kepada permasalahan inti. Allah ta’ala berfirman mengenai ucapan iblis (yang artinya):
    “Iblis berkata: wahai Robku! Karena engkau telah menyesatkan aku, niscaya aku akan menghias-hiasi (kesesatan itu) terhadap mereka dimuka bumi, dan niscaya aku akan menyesatkan mereka seluruhnya. Kecuali para hambamu yang ikhlas diantara mereka. Allah berfirman: ini adalah jalanku yang lurus. Sesungguhnya engkau tidak memiliki kekuasaan terhadap para hambaku kecuali terhadap siapa yang telah mengikutimu dari orang-orang yang sesat”. (Al Hijr: 39-42)
    Allah juga berfirman (yang artinya):
    “Sesungguhnya iblis tidak memiliki kekuasaan terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rob mereka. Hanya saja kekuasaannya terhadap orang-orang yang loyal kepadanya dan mereka menyekutukannya (dengan Allah)”. (An Nahl: 99-100)
    Allah juga berfirman (yang artinya):
    “Allah melaknatnya (iblis). Iblis berkata: sungguh aku akan mengambil bagian yang telah ditentukan dari para hambamu. Dan niscaya aku benar-benar akan menyesatkan mereka…”. (An Nisa’: 118-119)
    Disana masih banyak lagi aya-ayat Alquran yang serupa. Sekarang coba perhatikan ayat-ayat ini dengan seksama. Bukankah Allah telah menetapkan padanya kemampuan dan kekuasaan iblis untuk menyesatkan orang-orang yang terpedaya dengannya? Dimana pemahaman anda dibanding ayat-ayat ini? Mungkinkah iblis menyesatkan tanpa ada kemampuan untuk itu. Kemampuan iblis untuk menyesatkan sangatlah dahsyat bahkan melebihi dari apa yang kita bayangkan. Sehinnga tak ada yang selamat daripadanya kecuali segelintir dari para hamba Allah yang ikhlas. Adapun ucapan iblis yang Allah kisahkan di dalam alquran sebagai berikut,
    “Aku tidak punya kekuasaan terhadap kalian melainkan aku hanya mengajak kalian lalu kalian menyambut seruanku…”. (Ibrahim: 22)
    Ibnu Abbas menafsirkan pernyataan iblis ini sebagai berikut, “aku tidak punya hujjah yang aku pakai untuk menghujjah kalian”.
    Jadi kekuasaan dan kemampuan yang Allah tiadakan dari iblis adalah yang berupa hujjah dan keterangan yang nyata bukan kekuasaan dan kemampuan untuk meyimpangkan dan menyesatkan. Sehingga iblis mampu menyesatkan manusia kepada kekafiran, kesyirikan, dan kemaksiatan walaupun tanpa hujjah dan keterangan yang nyata. Dia melakukannnya hanya semata-mata dengan kelicikan dalam mengemas makar dan tipudaya. Ini bukan pemahaman saya tetapi keterangan dari Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Ighootsatul lahafaan. Keterangan ini dapat mengkompromikan antara ayat-ayat yang telah kita sebutkan diatas. Maka kita mesti memahami mana kemampuan yang ditiadakan oleh iblis dan mana yang dia tetapkan untuk dirinya. Supaya kita tidak menabrakkan antara satu ayat dengan yang lain. Allahul Musta’an
    Sedangkan para tokoh penyesat umat adalah bala pasukan iblis yang juga tentunya sangat mampu untuk menyesatkan umat ini. Sebab mereka menyerap kemampuan itu dari sang iblis laknatullah. Sebenarnya jika anda mau membaca tulisan saya dengan hati yang jernih, maka perkaranya sudah jelas. Yaitu yang menegaskan bahwa para tokoh itu sangat mampu menyesatkan umat ini adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Bukankah beliau telah bersabda (yang artinya),
    “Hanya saja yang paling aku khawartikan terhadap umatku adalah para pimpinan yang menyesatkan” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al Imam Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Al Albani rahimahullah dalam As-Shahihah 4/110)
    Kalau seandainya mereka tidak punya kemampuan untuk menyesatkan lalu bagaimana mereka akan menyesatkan? Kalau seandainya kemampuan mereka tidak dahsyat lalu kenapa Rosulullah sangat mengkhawatirkannya?
    Adapun pernyataan bahwa tak ada yang memberi petujuk dan menyesatkan kecuali Allah, maksudnya bahwa semua itu terjadi dengan taqdir dan kehendak Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
    “Tidaklah kalian berkehendak kecuali Allah berkehendak, Rob semesta alam”. (At Takwir: 29)
    Jadi apapun yang dikehendaki dan dilakukan oleh manusia mesti tak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Demikian pula perbuatan mereka untuk menyesatkan tentu terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Namun bukan berarti mereka tidak mampu untuk menyesatkan, hanya saja terjadinya dengan kehendak Allah. Kehendak dan penciptaan Allah adalah kekuasaan Allah yang mutlak. Sedangkan kemampuan dan perbuatan makhluk adalah keadilan Allah yang menunjukkan bahwa Allah tidak semena-mena dengan kehendak dan ketentuan-Nya, terhadap makhluk. Inilah keyakinan ahlus sunnah yang selamat dari berbagai penyimpangan. Barangsiapa yang tidak memahami hal ini, niscaya dia akan tersesat diantara kebodohan paham jabriyah dan kepongahan paham Qodariyah.
    Saya kira permasalahan ini sudah jelas. Akhirnya, saya mengajak para pembaca untuk banyak-banyak mempelajari ilmu dari sumbernya yang benar, Alkitab dan Assunnah dengan pemahaman salaf. Hendaklah kita mencari dan memperdalam ilmu ini dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita mempelajarinya hanya sepenggal-sepenggal. Karena yang demikian itu akan membawa kita kepada kerancuan. Dan saya berharap kepada yang memberi komentar agar jangan asbun (asal bunyi) atau asnul (asal nulis). Nanti anda akan menyesal dihadapan Allah, karena semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish shawab

    • Bismillahirrahmanirrahiim

      Afwan akh Heru, ana cuma mau memberi masukan.
      Logo antum itu berupa gambar mahluq yg bernyawa.
      Kita semua tentunya sudah mengetahui hukum gambar mahluq bernyawa.

  12. Berapa banyak orang yang menyuarakan kebenaran, namun sedikit diantara mereka yang bisa menunjukkan bahwa yang benar itu adalah benar, dan dia benar-benar di atas yang benar .

    Bagaimana mungkin dia benar-benar di atas yang benar, sedangkan dia bukanlah Sang Mahabenar?


    Jawab:
    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Kebenaran itu datang dari Robmu, maka janganlah engkau termasuk dari orang-orang yang ragu” (Al Baqarah:147)
    selama kita terus berupaya semurni mungkin untuk mengikuti Alquran dan As Sunnah yang datang dari Allah, niscaya kita benar-benar diatas yang benar dan jangan ragu. Adapun kesempurnaan adalah milik Allah. Bila kita selalu melakukan intropeksi diri, mengakui kesalahan, kembali kepada kebenaran, dan bertaubat kepada Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya…

  13. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah, saya mendapatkan secercah keteguhan dalam ikhtiar kita agar selalu Istiqomah, dengan prinsip kehatian-hatian bahwa akhir zaman sudah banyak terdapat Ulama bi Su sebagaimana yang telah dijelaskan diatas dengan panjang lebar secara jelas, demikian mudah-mudahan sangat bermanfaat dan dapat dipahami dengan benar dikalangan Muslimin dan Muslimat jangan sampai salah pengertian dan jangan memberi tanggapan asbun dan asnul.
    Jazaakallahu,
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  14. Setiap kita wajib melihat pada diri2 kita.Jika kita orang yg menasihati,apakah kita orang yg berusaha mengamalkan apa yg kita nasihati,karena Allohkah?Dengan apa nasihat ditegakkan,dg alquran dan Sunnahkah?
    Dan bagi yg dinasihati,lihat diri ini apakah kita termasuk yg senang menerima nasihat dari Quran,Kalam Rabb kita yg sering kita mintai dg do’a dan sunnah dari Nabi kita,yg kita mencintainya?
    Jika ya.. alhamdulillah.

  15. Assalamualaikum.
    Barakallahufikum ya ustadz. Ustadz gimana kalu komentar yg gak ‘bermutu’ gak usah ditampilkan alias langsung didel aja, tampilkan aja jawaban ustadz sebagai nasehat bagi kami.
    Jazakallahu khoiran khatsir.
    Wasalamualaikum

    Jawab:

    Wa’alaikumussalam

    Jazaakallahu khairan atas masukannya.

  16. Bismillah… Kepada Sekedar Nasehat… Manusia tidak ada yang sempurna… kalo agama ini anda sandarkan kepada manusia atau org yg dianggap alim… maka anda sangat rugi wahai saudara muslimku… sandarkanlah agama ini kepada Org Yg Ma’sum (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam)… berat sekali saudaraku untuk menjalankan syariat ini.. bukan hak anda untuk menghakimi amalan seseorang… Hasbunallah wani’mal wakiil… wabaarakallahu fiika..

  17. Assalamu’alaikum
    Jazakumullah khoiron katsiro
    mohon bantah terus subhat-subhat tersebut dengan Ilmu.

  18. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Saya setuju dengan apa yang telah dijelaskan oleh Pak Ustadz di atas, tapi mungkin kiranya bisa saya tambahkan penjelasannya bahwa Para Pemimpin/Tokoh yang dimaksud adalah Para Pemimpin/Tokoh Agama (Imam) atau Seseorang Yang Dianggap Pemimpin/Tokoh Agama, karena merekalah yang menentukan jalan umatnya. Apabila Imam tersebut sesat, maka sesatlah juga umatnya. Untuk itulah kita sebagai umat Muslim, kita harus lebih selektif dalam menentukan seorang Pemimpin/Tokoh Agama, yang jelas kita harus tetap berpegang kepada Al Qur’an dan Al Hadits.
    Wassalam.

  19. bismillah…jazakumullah khair atas ilmu. bantahlah ahlul batil dgn hikmah supaya mereka jera dngn syubhatnya…

  20. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal..

    assalamualaikum warahmatullah..

  21. iZIN copy paste …

    jazakumulloh khoir

  22. Assalamu’alaikum, Ustadz, artikelnya tambahin dunk…

    salam kenal ana denny abu shafiyah tinggal di depok jawabarat

  23. Ustad terus bantah syubhat subhat..Dan kerancuan kerancuan memahami alquran dan hadits yg menyesatkan..!Dengan pemahaman salafusolih.

  24. na’am,, semoga Allah ta’ala membimbing para talabul ilmi kepada pemahaman yang haq, fa’alaykum bi sunnatii wa sunnati khulafairrasydiinal mahdiyyin. yaitu yang rosullullah salallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabatnya ada di atasnya. pemahaman mereka yang kita pegang.
    “tiada izzah islam akan kembali tanpa tafsiyah dan tarbiyah dan kembali kepada manhaj salafus shalih”

  25. benar.setiap ajakan dan pernyataan yg menuju kebaikan pasti banyak penolakan. tetaplah istiqomah dlm kebenaran dan kebaikan.

  26. USTAD YG TERHORMAT MOHON JANGAN DITAYANGKAN KOMENTAR KOMENTAR YANG MENYESATKAN…

  27. assalamualaikum…
    barakallahu fik ya ustad,semoga Allah senantiasas memberkahi anda, keluarga anda, dan segenap kaum muslimin, yg mereka selalu berpegang pada al-Qur’an dan sunnah ‘ala fahm salafussholeh…dan semoga Allah memberi hidayah kepada mereka yg menentang pada kebenaran dakwah yg haq..dakwah dlm rangka memurnikan islam.

  28. Assalamu’alaikum.

    artikel ustadz sangat baik untuk menasehati para pemimpin kaum muslimin yang mulai berpaling dari tuntunan Islam. Yang tidak setuju dengan artkel diatas perlu menguatkan iman & taqwa kepada Allah, agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: